Investor Cerna Data Ekonomi AS, Rupiah Dibuka Melemah Tipis 2 Poin

smeaker.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (5/10) dengan pelemahan tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 13.479 per AS. Sebelumnya, Rabu (4/10), Garuda berakhir terapresiasi 0,48 persen atau 65 poin ke level Rp 13.477 per dolar AS usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.459 hingga Rp 13.515 per dolar AS.

Sementara itu, dolar AS berakhir melemah 0,10 persen menjadi 93,471 terhadap sejumlah mata uang utama di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB karena para pelaku pasar kini tengah mencerna rilis Amerika Serikat.

Berdasarkan dari ADP pada Rabu (4/10), lapangan pekerjaan di sektor swasta Amerika Serikat naik menjadi 135.000 pada September, jauh lebih rendah dibanding perolehan bulan Agustus di level 228.000. ADP selama ini kerap menjadi acuan untuk data penggajian non pertanian (non farm payroll) AS yang akan dilaporkan pada Jumat (6/10) waktu setempat.

Selain itu, pada Rabu (4/10) Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan bahwa aktivitas ekonomi pada sektor non bulan September 2017 naik untuk bulan ke-93 berturut-turut. Indeks non ISM menginjak angka 59,8 persen pada bulan September 2017, melebihi konsensus pasar.

Para pelaku pasar pun tengah menantikan pidato Ketua , Janet Yellen pada pembukaan konferensi penelitian dan kebijakan abad ke-21 Komunitas Perbankan di St. Louis pada Rabu sore waktu setempat. Pidato Yellen dinanti-nanti agar dapat memperoleh petunjuk terkait jadwal kenaikan suku bunga The Fed berikutnya.

Di sisi lain, penguatan rupiah di akhir perdagangan kemarin diperkirakan hanya berlangsung sementara akibat pergerakan teknikal. Rupiah diprediksi masih akan melemah. “Secara umum, dollar AS masih menguat, kinerja penguatan rupiah ini hanya sementara,” ujar Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, seperti dilansir Kontan.

Sepanjang hari ini pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen seperti data ADP non-farm employment change, ISM non-manufacturing PMI, dan stok minyak mentah yang dilaporkan malam ini. “Semua penggerak rupiah berasal dari AS. Meski data ADP non-farm employment change diprediksikan jelek, ini hanya akan sedikit menguatkan rupiah,” tandasnya.

Loading...