Investor Bermain Aman, Rupiah Malah Ditutup Menguat

Rupiah menguat pada perdagangan Senin (25/1) sore - www.merdeka.com

JAKARTA – ternyata mampu mengangkat posisi ke teritori hijau pada Senin (25/1) sore meski wabah virus corona yang makin menyeramkan membuat menghindari aset berisiko dan memilih bermain aman. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup menguat 12,5 poin atau 0,09% ke level Rp14.022,5 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menempatkan acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.082 per dolar, terkoreksi 28 poin atau 0,19% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.054 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia juga kewalahan meladeni greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,13% dialami dolar Taiwan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, investor saat ini sepertinya tengah menjaga jarak dengan keuangan Benua Kuning. Hal tersebut terlihat dari bursa saham Asia yang berjatuhan, bahkan Indeks Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 2% pada Senin pagi. Kemungkinan pelaku pasar sedang memasang mode risk-on (menjauhi risiko) dan memilih aset aman, seperti emas dan dolar AS.

Sebenarnya, pergerakan greenback pada hari awal pekan juga cenderung merosot, meneruskan penurunan baru-baru ini, meskipun kekhawatiran baru tentang virus corona dan pelemahan ekonomi global mendorong investor untuk berpegang pada aset safe haven. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,095 poin atau 0,11% ke level 90,143 pada pukul 11.24 WIB.

“Saya tidak berpikir memiliki insentif untuk membatasi stimulus mereka pada saat ini, meskipun beberapa pelaku pasar mungkin mencoba untuk membaca yang tersirat untuk tanda-tanda pengurangan stimulus,” kata kepala penjualan FX di State Cabang Tokyo Street Bank, Kazushige Kaida. “Saya pikir dolar AS akan tetap berada dalam tren turun.”

Seperti diberitakan Reuters, aktivitas ekonomi di zona Eropa menyusut tajam pada bulan Januari, karena lockdown yang ketat untuk menahan pandemi COVID-19 justru menghantam industri yang dominan, sedangkan data di Inggris menunjukkan retail negara tersebut sepanjang Desember 2020 berjuang untuk pulih. Beberapa masalah dalam virus corona juga membebani sentimen.

Loading...