Integritas Ekonomi ASEAN Bergantung Sektor Swasta

Kurangnya kemauan politik dan penerimaan publik dianggap sebagai faktor penyebab terhambatnya integritas regional di kawasan ASEAN. Karena itu, sektor swasta di wilayah ini diminta untuk lebih berupaya keras agar mencapai ekonomi tunggal, seperti tujuan pembentukan Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015 lalu.

“MEA meletakkan dasar bagi basis produksi tunggal melalui penghapusan dan inisiatif liberalisasi lainnya,” kata Chairman CIMB Group Holdings dan Co-Chairman ASEAN Business Club, Nazir Razak. “Namun, ASEAN tidak pernah melakukan usaha yang cukup untuk mewujudkan hal tersebut,”

Ditambahkan Nazir, terhambatnya MEA salah satunya karena latar belakang sengketa teritorial di Laut China Selatan yang melibatkan China. Karena itu, ia pun mengusulkan agar di kawasan ini harus membentuk badan independen untuk melaksanakan, memantau, dan mendorong -proyek di bawah integritas ekonomi.

Diakui Nazir, meski telah hadir di Indonesia, Malaysia, , dan , CIMB masih tidak dapat mengatur operasional secara terpusat karena perbedaan hukum nasional di masing-masing negara. “Ketika saya berpikir tentang itu, ada sedikit fokus dan kepemimpinan untuk mendorong integritas ekonomi,” sambung adik bungsu Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, tersebut.

Sebagai langkah awal untuk mendorong tindakan liberalisasi ekonomi, ia pun menyarankan agar bank-bank regional diizinkan untuk bergerak “bebas”. “Banyak negara berkembang di ASEAN yang bersikap defensif karena negara dengan ekonomi lebih maju akan mendapatkan keuntungan yang lebih ketika pasar mereka dibuka,” tambahnya.

“Untuk mengatasinya, salah satunya adalah mendorong perusahaan regional untuk mengambil peran dan tanggung jawab dengan lebih serius dan menunjukkan bahwa MEA sebenarnya bermanfaat untuk semua orang,” imbuh Nazir. “Kami juga harus menghabiskan waktu untuk membantu perusahaan yang ada untuk meningkatkan modal di pasar yang lebih maju daripada harus menunggu pasar saham mereka sendiri.”

Setelah pembukaan bursa pertama di Myanmar tahun lalu, sekarang setidaknya sudah ada bursa di masing-masing negara ASEAN, kecuali Brunei. Meski begitu, kondisi masing-masing bursa sangat kontras. Misalnya, Bursa Efek Hanoi memiliki kapitalisasi pasar hanya 7 miliar pada akhir Juli, jauh dibandingkan Singapore Exchange yang memiliki 679 miliar .

“ASEAN juga perlu memiliki pemimpin karismatik dan kuat seperti mantan Presiden Soeharto dari Indonesia, Perdana Menteri Lee Kuan Yew dari Singapura, dan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad untuk mengarahkan kawasan itu,” sambung Nazir. “ASEAN juga mengakui bahwa Indonesia adalah kakak dan Presiden Joko Widodo memiliki semua bahan yang diperlukan untuk meyakinkan semua orang mengenai keuntungan MEA.”

Loading...