Ingin Belanja Barang dari Luar Negeri? Ini Besarnya Biaya Freight Import

Belanja Barang dari Luar Negeri - www.bandt.com.auBelanja Barang dari Luar Negeri - www.bandt.com.au

Berbeda dari belanja lewat shop atau toko-toko offline dalam negeri, setiap kali pembelanjaan dari alias impor akan dikenai sederet atau dengan nominal tertentu, tergantung dari sejumlah . Salah satu komponen yang dimaksud adalah freight atau ongkos kirim. Freight merupakan biaya untuk barang yang dikenakan dari penyedia terhadap barang yang hendak dikirim ke dalam negeri.

Biaya freight import atau freight cost ini pada dasarnya telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 112/PMK.04/2018 tentang Perubahan PMK Nomor 182/PMK.04/2016 tentang Ketentuan Impor Barang Kiriman. Adapun pajak impor barang freight cost untuk pengangkutan melalui laut dikenai biaya sebesar 5% dari nilai FOB (free on board) untuk barang impor yang dikirim dari -negara ASEAN.

Kemudian 10% dari nilai FOB untuk Asia-Non ASEAN atau Australia (misalnya China, Jepang, India, dan lain-lain), serta 15% untuk negara selain Asia-Non ASEAN, yakni Eropa, AS, Afrika, Rusia, dan Kanada. Sementara itu, untuk pengangkutan melalui air freight/udara, maka biaya freight import yang dijadikan dasar pajak ditentukan berdasarkan International Air Transport Association (IATA).

Lewat PMK yang baru itu pula, pemerintah mengubah ketentuan batas nilai impor barang kiriman yang akan dikenai tarif bea masuk sebesar 7,5% adalah barang-barang dengan total USD 75 per sekali kirim, turun dari angka sebelumnya sebesar USD 100.

Dengan begitu, apabila ada pengiriman barang impor dengan nilai di atas USD 75 per sekali kirim, maka pengirim akan dikenai bea masuk 7,5% dari nilai kiriman. Sedangkan pengiriman barang impor di bawah USD 75 per sekali kirim tak dikenai bea masuk. “Contoh lain, kalau seseorang dalam sehari melakukan tiga transaksi pengiriman senilai US$50, US$20, dan US$100, maka yang dibebaskan bea masuk dan pajak impor adalah yang US$50 dan US$20, sedangkan yang US$100 dikenakan tarif normal,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi, seperti dilansir CNNIndonesia.

Kebijakan ini menurutnya dilakukan supaya Indonesia tidak terus-menerus tergantung pada barang impor, sehingga industri dalam negeri pun dapat tergerak untuk memenuhi kebutuhan yang selama ini masih dipenuhi secara impor.

Loading...