Infrastruktur dan Produktivitas, Tantangan Pertumbuhan Ekonomi ASEAN

Infrastruktur dan Produktivitas ASEAN - asia.nikkei.com

TOKYO – Negara-negara di Tenggara layak memperoleh tinggi untuk perkembangan ekonomi mereka sejak krisis melanda pada tahun 1997 silam, menurut survei terbaru dari ekonom lokal terkemuka. Reformasi yang sedang berlangsung telah membantu perekonomian ke tingkat pertumbuhan yang lebih kuat, sedangkan upaya peningkatan stabilitas keuangan mencegah terulangnya krisis.

Dua puluh tiga ekonom di lima negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) berpartisipasi dalam jajak pendapat yang dilakukan JCER/Nikkei Consensus Survey pada tanggal 10 Maret hingga 30 Maret 2017. Meski diyakini mampu bangkit, namun para ahli menilai masih ada beberapa tantangan ke depan, seperti , peningkatan produktivitas, dan melaksanakan reformasi lebih lanjut guna menjaga momentum pertumbuhan.

Perekonomian di , seperti China dan India, telah tumbuh melampaui ekonomi dunia. Dalam dua dekade terakhir, Indonesia dan Filipina, yang notabene negara berpenghasilan rendah, telah mencapai pertumbuhan rata-rata lebih dari 5 persen. Perekonomian Indonesia telah tumbuh cukup pesat dengan rata-rata 5,3 persen per tahun, kata Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman. Sementara, ekonomi Filipina tumbuh hampir 6 persen selama 10 tahun terakhir, menurut Kepala Strategi Pasar di BDO Unibank, Jonathan Ravelas.

“Ekonomi Asia pada umumnya memang jauh lebih kuat sekarang,” kata CEO Centennial Asia Advisors, Manu Bhaskaran. “Sementara, negara-negara di Asia Tenggara memiliki pandangan-pandangan ekonomi yang lebih cerah.”

Reformasi dan kebijakan yang tepat, menurut para ekonom, telah menyokong pertumbuhan yang pesat di kawasan ASEAN dalam dua dekade terakhir. “Selama 20 tahun terakhir, Malaysia telah melakukan berbagai reformasi, dalam bentuk peraturan dan kebijakan baru. Selain itu, negara ini juga berhasil dalam hal diversifikasi ekonomi berbasis pertanian dan ,” papar Kepala Departemen Ekonomi di Kenanga Investment Bank, Wan Suhaimie Saidie.

Meski demikian, reformasi dapat melahirkan masalah baru. Kepala Industri dan Riset Regional Bank Mandiri, Dr. Dendi Ramdani, menunjukkan masalah struktural yang dihadapi Indonesia adalah struktur ekonomi yang berubah dengan proporsi yang lebih besar dalam layanan industri kecil. “Indonesia, di bawah Joko Widodo, harus mempercepat industrialisasi,” sarannya.

Para ekonom juga menekankan bahwa masih ada banyak tantangan ke depan. Indeks seperti Doing Business milik World Bank menyoroti kekurangan dari lingkungan di negara-negara berpenghasilan rendah seperti Indonesia dan Filipina. Malaysia dan Thailand juga menghadapi hambatan di sektor pendapatan menengah.

Perbaikan infrastruktur yang tetap belum terselesaikan, bank yang belum optimal dalam mendukung pertumbuhan, serta meningkatkan produktivitas adalah beberapa hambatan yang menghadang di depan. “Perekonomian di Asia juga memiliki tantangan mendamaikan perbedaan historis mereka, dan itu memengaruhi kemampuan mereka untuk memperluas kemitraan untuk mengangkat pertumbuhan ke level berikutnya,” jelas Profesor di Singapore University of Social Sciences, Randolph Tan.

Loading...