Inflasi Rendah, Negara Berkembang Menuju Pelonggaran Moneter

Negara Berkembang - news.lewatmana.comNegara Berkembang - news.lewatmana.com

NEW YORK/SAO PAULO – -negara berkembang kini ramai-ramai bergerak menuju kebijakan pelonggaran , tepat pada saat -negara maju justru mengambil kebijakan pengetatan. -negara ini agaknya mengambil peluang di tengah laju yang lebih rendah dan penurunan risiko pelarian untuk mengembalikan pertumbuhan mereka.

Menurut , tingkat suku bunga negara berkembang telah turun drastis hingga pertengahan tahun 2017 ini, terutama di Amerika Selatan. Brasil telah memangkas suku bunga acuan mereka sebesar 4,5 persen dalam lima putaran sejak awal 2017, dan kini mencapai 9,25 persen di bulan Juli. Sementara, Kolombia telah melakukan enam kali pemotongan dan Peru memiliki dua, masing-masing 5,5 persen dan 3,75 persen.

Di Tenggara, pada Selasa (22/8) lalu, Bank Indonesia bergabung bersama ‘rombongan’ dengan memangkas suku bunga mereka menjadi 4,5 persen, yang pertama sejak Oktober 2016. Sebelumnya, di awal bulan ini, Bank Sentral India telah memotong suku bunga mereka ke level 6 persen, terendah selama tujuh tahun terakhir. Afrika Selatan memangkas suku bunga menjadi 6,75 persen, sedangkan Rusia menurunkan suku bunga mereka menjadi 9 persen di bulan Juni 2017.

Pemotongan suku bunga ini terutama disebabkan laju inflasi yang berangsur melambat di banyak negara. Brasil, yang telah lama berjuang dengan tinggi, mencatat pertumbuhan 2,7 persen year-on-year pada bulan Juli, terendah dalam 18 tahun terakhir. “Ini adalah hal yang langka karena pangan turun di negara ini,” ujar pegawai di salah satu toko kelontong.

Harga pangan yang rendah juga telah menyebabkan inflasi turun di India, dan Bank of America Merrill Lynch mengantisipasi bank sentral akan menurunkan suku bunga lagi di bulan Desember. “Tekanan inflasi tidak mungkin terjadi kembali, mengingat melemahnya dolar AS dan faktor lainnya, sementara suku bunga pinjaman yang tinggi dan sedikit permintaan cenderung akan bertahan untuk beberapa lama,” kata lndranil Sengupta, ekonom di salah satu bank negara tersebut.

Biasanya, pelonggaran moneter akan berisiko memacu pelarian modal bagi negara-negara berkembang, terutama jika negara-negara maju secara bersamaan mengetatkan kebijakan moneter mereka. Tetapi, kekhawatiran tentang eksodus modal tidak terlalu tinggi, setidaknya untuk saat ini. Banyak investor yang berharap AS melanjutkan pengetatan, dan menurut International Finance, negara-negara berkembang telah mengalami arus masuk investasi bersih melalui obligasi dan ekuitas setiap bulan sejak Desember lalu.

Namun, upaya ini bukannya tanpa risiko. Sejumlah negara telah semakin bergantung pada pelonggaran, namun karena langkah stimulus dan manajemen yang lemah, membuat keuangan pemerintah berantakan. Otoritas Brasil pada 15 Agustus lalu menaikkan target defisit anggaran untuk semua tahun fiskal sampai 2020. Sementara, faktor politik juga memicu kekhawatiran serupa di Afrika Selatan dan Turki.

Selain itu, tidak ada jaminan bahwa kekhawatiran mengenai pengetatan di Eropa dan AS tidak akan berkobar lagi. Bank sentral dari seluruh dunia akan menyelenggarakan konferensi tahunan mereka di Jackson Hole, Wyoming, AS mulai hari Kamis (24/8) ini. Investor akan dengan hati-hati mengevaluasi komentar para pemimpin seperti Ketua Federal Reserve, Janet Yellen, dan Presiden ECB, Mario Draghi, untuk mengetahui bagaimana jalannya normalisasi kebijakan, yang dapat mengubah keputusan investasi mereka.

Loading...