Inflasi Catat Rekor Terendah, Rupiah Tetap Berakhir Drop

Rupiah - www.beritasatu.comRupiah - www.beritasatu.com

JAKARTA – Rupiah gagal merangsek ke area hijau pada Kamis (2/1) sore, meskipun data inflasi Indonesia sepanjang 2019 dilaporkan menjadi level terendah dalam sepuluh tahun terakhir. Menurut paparan Index pada pukul 15.54 WIB, Garuda ditutup melemah 27 poin atau 0,20% ke level Rp13.893 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp13.895 per dolar AS, menguat tipis 6 poin atau 0,04% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.901 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata harus takluk melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,24% menghampiri rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa indeks konsumen (IHK) Indonesia sepanjang bulan Desember 2019 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,34% secara bulanan. Angka ini meningkat daripada bulan sebelumnya sebesar 0,14%, namun lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 0,62%.

“Inflasi terjadi karena kenaikan harga-harga di kelompok makanan sebesar 0,78%. Kelompok ini memberi andil ke inflasi nasional sebesar 0,16%,” papar Kepala BPS, Suhariyanto. “Inflasi terjadi di harga telur ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan beberapa sayuran, seperti beras, bayam, dan kacang panjang. Namun, ada beberapa komoditas yang berandil deflasi, seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras.”

Kemudian, kelompok dengan inflasi tertinggi kedua merupakan transportasi, komunikasi, dan jasa sebesar 0,58%, dengan andil 0,1%. Seperti yang sudah diperkirakan, karena bertepatan dengan momen libur Natal dan Tahun Baru, ada inflasi dari tarif angkutan udara dengan andil 0,07%, tarif kereta api dengan andil 0,02%, dan tarif antarkota dengan andil 0,01%.

Jika dihitung secara tahunan, angka inflasi sepanjang 2019 tercatat sebesar 2,72%. Jika melihat data Reuters sejak 1998, data inflasi ini merupakan yang terendah setelah tahun 1999 yang kala itu inflasi hanya di 2,13%. Pencapaian ini dikatakan karena pemerintah mampu menjaga stabilitas harga, terutama komoditas yang harganya diatur oleh pemerintah (administered prices).

Loading...