Inflasi Naik Tipis, Rupiah Tetap Berakhir Merah

Rupiah - www.covesia.comRupiah - www.covesia.com

JAKARTA – tetap gagal mengatrol posisi ke teritori hijau pada Kamis (1/8) sore, meskipun pada bulan Juli 2019 dilaporkan masih cukup stabil meski ada kenaikan tipis. Menurut catatan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 94 poin atau 0,67% ke level Rp14.116 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.098 per dolar AS, terdepresiasi tajam 72 poin atau 0,51% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.026 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang juga tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,56% dialami rupiah.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang Juli 2019, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,31%, dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,36% dan inflasi tahun ke tahun mencapai 3,32%. Inflasi ini lebih tinggi daripada inflasi Juli 2018 lalu yang sebesar 0,28%, namun lebih rendah dibandingkan Juni 2019 yang mencapai 0,55%.

“Andil inflasi paling tinggi disebabkan oleh cabai rawit sebesar 0,06%, meski bawang putih dan bawang merah masing-masing memberi andil deflasi sebesar 0,02% dan 0,04%,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto. “Inflasi tertinggi juga dicatat oleh komponen pendidikan, yakni 0,92%, lantaran ada kenaikan biaya pendidikan setiap awal tahun ajaran baru.”

Meski terbilang cukup stabil, namun inflasi domestik tersebut gagal mengatrol nilai tukar rupiah ke zona hijau. Pasalnya, di sisi lain, laju dolar AS tidak terbendung setelah Federal Reserve memberikan pandangan untuk mengesampingkan prospek pelonggaran lebih lanjut. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,379 poin atau 0,38% ke level 98,895 pada pukul 13.45 WIB.

Diberitakan Reuters, seperti yang sudah diperkirakan, bank sentral AS menurunkan suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan tengah pekan ini, untuk menopang perekonomian terhadap risiko, termasuk gesekan perdagangan. Namun, pada konferensi pers setelah rapat, Gubernur , Jerome Powell, menyatakan bahwa itu bukan awal dari serangkaian penurunan suku bunga

“Komentar Powell tidak terlalu bersifat dovish,” kata kepala mata uang di Mizuho Securities di Tokyo, Masafumi Yamamoto. “Hasil ini membatasi pelemahan dolar AS. Kemungkinan pemotongan suku bunga akan kecil, tetapi ini masih memperkuat kasus untuk ekspansi ekonomi AS yang berkepanjangan, yang positif untuk dolar AS dalam jangka panjang.”

Loading...