Inflasi Domestik Stabil, Rupiah Justru Berakhir Melorot 0,50%

rupiah melemah

Laju dalam negeri di bulan September 2017 yang dilaporkan cukup stabil ternyata tidak mampu mengatrol nilai tukar rupiah untuk bergerak ke zona hijau. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda bahkan harus menutup transaksi hari ini (2/10) dengan melorot 68 poin atau 0,50% ke level Rp13.540 per .

Sebelumnya, pada Jumat (29/9) pekan lalu, rupiah mampu ditutup menguat 43 poin atau 0,32% di posisi Rp13.472 per dolar AS. Namun, pagi tadi, mata uang Garuda membuka transaksi dengan berbalik 6 poin atau 0,04% menuju level Rp13.478 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.475 hingga Rp13.578 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa di bulan September 2017, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,13%. Dengan demikian, inflasi untuk tahun kalender (Januari-September) 2017 menjadi sebesar 2,66%. Kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, dan olahraga tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar di bulan kesembilan tahun 2017 dengan andil 0,08%.

“Inflasi ini masih lumayan rendah meskipun di beberapa kota ada kenaikan harga komoditas,” terang Kepala BPS, Suhariyanto, di . “Dari 82 kota IHK, 50 kota mengalami inflasi dan 32 kota lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Tual, yakni sebesar 1,59% dan yang terendah di kota Depok dan Mamuju yang sebesar 0,01%.”

Inflasi September 2017 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 0,22%, namun lebih tinggi dari bulan September 2015 yang mengalami deflasi. Suhariyanto mengingatkan agar tetap menjaga harga komoditas untuk tiga bulan terakhir karena di akhir tahun ada kegiatan liburan dan hari besar keagamaan. “Semoga target inflasi kita bisa tercapai,” tutupnya.

Dari global, indeks dolar AS terpantau bergerak menguat ketika sibuk memantau referendum kemerdekaan Catalonia, Spanyol yang dikabarkan berlangsung ricuh. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama pagi tadi pukul 08.41 WIB naik 0,248 poin atau 0,27% menuju posisi 93,324 setelah sebelumnya dibuka di level 93,134.

Penguatan greenback juga terdorong kenaikan imbal hasil surat utang AS menjadi 2,360% pada perdagangan di Asia akhir pekan lalu. Pendorong penguatan ini karena adanya sinyal dari Federal Reserve untuk terus melanjutkan kenaikan suku bunga lanjutan di akhir tahun. “Sebagian besar mata uang berkembang mengalami tekanan jual tinggi karena dolar AS menguat,” ujar Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga.

Loading...