Inflasi Domestik Melonjak, Rupiah Tersungkur di Penutupan

rupiah melemah

Inflasi dalam negeri bulan Juni 2017 yang dilaporkan mengalami kenaikan signifikan langsung membuat rupiah berbalik melemah pada perdagangan awal pekan (3/7) ini. Menurut laporan Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, mata Garuda harus memungkasi transaksi hari ini dengan pelemahan sebesar 20 poin atau 0,15% ke level Rp13.368 per dolar .

Rupiah sebenarnya mampu mengawali perdagangan di zona hijau dengan dibuka naik 19 poin atau 0,14% ke posisi Rp13.329 per dolar AS. Istirahat siang, Garuda kembali menguat 21 poin atau 0,16% ke level Rp13.327 per dolar AS. Namun, jelang penutupan atau pukul 15.31 WIB, spot berbalik terdepresiasi 31 poin atau 0,23% ke posisi Rp13.379 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada bulan Juni 2017 mencapai 0,69%, dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,38% dan tahun ke tahun 4,37%. Laporan inflasi ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 0,66% dan juga pada bulan Mei 2017 yang hanya sebesar 0,39%.

“Inflasi ini disebabkan penyesuaian tarif , angkutan udara, dan angkutan antar-kota,” jelas Kepala BPS, Suhariyanto. “Meski demikian, bahan makanan justru hanya menyumbang inflasi sebesar 0,14% karena relatif terkendali selama Ramadan dan Lebaran dan kondisinya lebih baik dibandingkan -harga bahan makanan sejak tiga tahun yang lalu.”

Sementara itu, dari , indeks dolar AS berhasil setelah mencatatkan penurunan kuartalan terbesar dalam hampir tujuh tahun pada sesi perdagangan sebelumnya. Usai dibuka dengan kenaikan tipis sebesar 0,021 poin atau 0,02% ke posisi 95,649, mata uang Paman Sam kembali menguat 0,035 poin atau 0,04% ke level 95,663 pada pukul 07.32 WIB.

Dolar AS mampu mengikis pelemahan yang dialaminya pada perdagangan akhir pekan (30/6) lalu akibat komentar hawkish dari sejumlah sentral asing yang menaikkan harapan adanya kebijakan moneter yang lebih ketat. “Apa yang benar-benar memberi pukulan ekstra dari komentar hawkish sentral adalah bagaimana sepertinya usaha terkoordinasi memberi sinyal pergeseran dari kebijakan suku bunga rendah,” ujar analis pasar Western Union Business Solution, Joe Manimbo, seperti dilansir Reuters.

Loading...