Inflasi AS Tetap Rendah, Rupiah Menguat di Awal Pekan

rupiah menguat

Data inflasi AS bulan September 2017 yang dilaporkan tetap rendah mampu dimanfaatkan rupiah untuk melaju di awal Senin (16/10) ini. Seperti dituturkan Index, Garuda membuka awal pekan dengan penguatan sebesar 45 poin atau 0,33% ke level Rp13.453 per AS. Sebelumnya, spot berakhir menguat 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.498 per AS pada tutup dagang Jumat (13/10) lalu.

Pada Jumat waktu setempat, Departemen AS melaporkan bahwa indeks Paman Sam pada bulan September 2017 sebesar 0,5%. Meski lebih tinggi dari bulan sebelumnya, yaitu 0,4%, namun IHK inti tetap lebih rendah dari target dua persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve, sehingga menimbulkan ketidakpastian mengenai kemungkinan kenaikan lanjutan.

Namun, Gubernur The Fed, Janet Yellen, dalam pidatonya pada hari Minggu (15/10) menuturkan bahwa dirinya masih berpandangan positif pada prospek inflasi AS bulan depan. Ia mengindikasikan bahwa inflasi AS cenderung membaik. “The Fed mungkin menaikkan suku bunga lagi pada bulan Desember, tetapi jika inflasi gagal tumbuh tahun depan, mungkin kenaikan suku bunga tidak akan terlalu banyak,” jelas Ekonom ANZ, Joanne Masters, seperti dilansir CNBC.

Analis PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, mengatakan bahwa rilis data inflasi AS terbaru memang berpotensi membawa angin segar terhadap valuasi rupiah. Meski menguat dibandingkan bulan Agustus, tetapi hasil masih di bawah perkiraan sehingga menyebabkan cenderung melemah. “Kalau neraca perdagangan ada peningkatan ekspor dan impor, ini bisa membantu nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Pada hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) memang direncanakan mengumumkan laporan neraca perdagangan Indonesia selama bulan September 2017. Surplus neraca dagang domestik diperkirakan masih berlanjut, namun besarannya lebih rendah dibandingkan surplus Agustus 2017 yang tercatat 1,72 miliar dolar AS. Para ekonom memperkirakan neraca perdagangan di bulan kesembilan akan mencatat surplus sebesar 1,2 miliar dolar AS sampai 1,4 miliar dolar AS.

Loading...