Inflasi AS Rendah, Rupiah Melonjak di Akhir Pekan

Rupiah - pekanbaru.tribunnews.comRupiah - pekanbaru.tribunnews.com

Rupiah akhirnya mampu membalikkan ke zona hijau pada perdagangan Jumat (11/5) ini setelah beberapa sesi perdagangan sebelumnya harus berkubang di area negatif, menyusul angka inflasi atau Indeks Konsumen (IHK) AS yang berada di bawah ekspektasi. Menurut Bloomberg Index pukul 15.59 WIB, Garuda ditutup menguat 124 poin atau 0,88% ke level Rp13.960 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 32 poin atau 0,23% di posisi Rp14.084 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (9/5) kemarin. Kemudian, mata uang NKRI mampu rebound dengan berbalik menguat 56 poin atau 0,40% ke level Rp14.028 per dolar AS ketika membuka pasar pagi tadi. Sepanjang hari ini, spot praktis bergerak cukup nyaman di area hijau.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan berada di posisi Rp14.048 per dolar AS, menguat 26 poin atau 0,18% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.074 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang perkasa versus , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,42% menghampiri rupiah, disusul dolar Taiwan yang melonjak 0,40%.

Dari pasar , indeks dolar AS perlahan bergerak turun di bawah level tertinggi 4,5 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama pada hari Jumat, setelah rilis kenaikan harga konsumen yang meredakan kekhawatiran untuk kemungkinan menaikkan suku bunga lebih dari yang diharapkan pada tahun ini. Mata uang Paman Sam terpantau hanya naik tipis 0,051 poin atau 0,06% ke level 92,701 pada pukul 11.05 WIB.

Pada Kamis (10/5) waktu setempat, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) negara tersebut mengalami peningkatan hanya 0,2% di bulan April 2018, lebih rendah dari prediksi ekonom yang sebesar 0,3%. Kenaikan inflasi didorong oleh meningkatnya bahan bakar dan akomodasi sewa yang ditopang secara moderat oleh harga perawatan kesehatan.

Catatan ini tidak banyak mengubah perkiraan para trader tentang kenaikan suku bunga pada Juni mendatang. Selama ini, pelaku pasar khawatir angka inflasi yang lebih tinggi bisa meningkatkan kekhawatiran kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh The Fed. “Ada kenyamanan bahwa The Fed tidak harus bergerak terlalu agresif,” ujar pedagang ekuitas di Themis Trading di New Jersey, Mark Kepner.

Loading...