Inflasi AS Rendah, Rupiah Melaju di Awal Pekan

rupiah menguat

Sajian data inflasi AS yang menunjukkan angka lebih rendah mampu dimanfaatkan rupiah untuk tancap gas pada awal pekan (14/8) ini. Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda membuka transaksi hari ini dengan menguat 12 poin atau 0,09% di level Rp13.349 per AS. Kemudian, pada pukul 08.39 WIB, spot kembali naik 21 poin atau 0,16% ke posisi Rp13.340 per AS.

Pada akhir pekan lalu (11/8) waktu setempat, Departemen AS menyatakan Indeks Konsumen Paman Sam di bulan Juli 2017 naik tipis 0,1% setelah tidak berubah di bulan sebelumnya. IHK AS hanya naik sedikit di bulan Juli karena makanan yang lebih tinggi mengimbangi turunnya harga beberapa barang lainnya.

Inflasi AS yang rendah di bulan kemarin membuat banyak analis berspekulasi bahwa Federal Reserve bakal menunda kenaikan tingkat suku bunga hingga Desember. Selain itu, dengan pasar tenaga kerja yang padat dan percepatan , para analis memperkirakan Bank Sentral AS akan mengumumkan rencana untuk mulai melepas portfolio obligasi pada pertemuan kebijakan di bulan September.

Para ekonom sebelumnya memperkirakan inflasi AS naik 0,2% pada bulan Juli dan naik 1,8% secara tahunan. Meskipun mendapat kenaikan harga konsumen yang rendah, yang berasal dari penurunan harga pada bulan Juli, banyak ekonom terus berbagi keyakinan Fed bahwa hal itu adalah faktor sementara menahan inflasi.

“Inflasi AS bulan Juli yang hanya tumbuh 0,1%, semakin menurunkan harapan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS pada bulan Desember nanti,” ujar Analis PT Kapital Investama Berjangka, Alwi Assegaf. “Data inflasi sangat penting buat karena kemarin PPI hasilnya buruk. Ini juga menjadi pertimbangan The Fed untuk menaikkan suku bunga.”

Meski demikian, rupiah masih berpotensi untuk berbalik arah seiring dengan ketegangan di wilayah Semenanjung Korea antara Korea Utara dengan AS. Hal ini membuat pelaku pasar menghindari sejumlah mata uang soft currency dan cenderung memilih aset safe haven. “Penguatan rupiah bisa terganjal faktor ini,” timpal Analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada.

Loading...