Inflasi AS Melonjak, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (31/5) pagi - mediaindonesia.com

JAKARTA – harus melorot ke zona merah pada perdagangan Senin (31/5) pagi setelah data inflasi AS terbaru dilaporkan menunjukkan angka yang lebih tinggi. Menurut laporan Index pukul 09.02 WIB, Garuda dibuka melemah 15 poin atau 0,1% ke level Rp14.300 per AS. Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat tipis 2,5 poin atau 0,02% di posisi Rp14.285 per AS pada Jumat (28/5) kemarin.

Data terbaru yang diumumkan akhir pekan kemarin menyebutkan, indeks konsumen atau laju inflasi AS pada bulan April 2021 mencapai 0,7%. Angka tersebut melampaui prediksi ekonom sebesar 0,6% serta raihan bulan sebelumnya yang tercatat 0,4%. Sementara itu, secara tahunan, inflasi inti AS tembus 3,1%, di atas proyeksi sebesar 2%.

Meskipun pembacaan tinggi sebagian disebabkan oleh efek dasar, seperti harga tertekan selama April 2020 karena lockdown yang ketat, dan kenaikan tahunan diperkirakan akan moderat akhir tahun ini, beberapa tetap pesimistis. Untuk saat ini, data memiliki dampak terbatas atas ekspektasi bahwa akan mempertahankan laju pembelian aset saat ini selama berbulan-bulan, mungkin pada akhir tahun, sebelum menurunkannya.

“Ketakutan para pembuat kebijakan bank sentral saat ini adalah pembicaraan publik mengenai tapering akan menjadi bagian dari ekspektasi inflasi,” tutur William English, mantan ekonom staf senior The Fed, dilansir dari Bisnis. “Ada ketidakpastian yang luar biasa dan model menginformasikan bahwa perkiraan Anda jauh kurang berguna karena kita tidak memiliki riwayat tentang hal seperti ini.”

Sementara, dari dalam negeri, juga tengah menantikan rilis data inflasi Indonesia bulan Mei 2021. Menurut perkiraan , seperti dikutip dari Kontan, adanya peningkatan inflasi yang lebih tinggi pada bulan kemarin. Berdasarkan hasil survei pemantauan harga hingga minggu keempat Mei 2021, inflasi diperkirakan sebesar 0,28% secara bulanan atau lebih tinggi daripada April 2021.

“Inflasi akan tetap rendah sehingga rupiah berpotensi melanjutkan penguatan,” kata Ahmad Mikail Zaini, ekonom Sucor Sekuritas. “Rupiah juga kemungkinan naik karena terdorong harga komoditas yang tinggi serta neraca perdagangan yang masih bisa surplus. Katalis lainnya datang dari bangkitnya kegiatan industri China yang membuat harga komoditas naik dan berefek positif pada ekspor Indonesia.”

Loading...