Inflasi AS Melambat, Rupiah Justru Berbalik Melemah

Rupiah - pojokpulsa.co.idRupiah - pojokpulsa.co.id

JAKARTA ternyata gagal melanjutkan tren positif pada perdagangan Rabu (15/9) pagi ketika data bulan Agustus 2021 dilaporkan lebih rendah dari perkiraan. Menurut paparan Index pada pukul 09.08 WIB, mata uang Garuda melemah 12,5 poin atau 0,09% ke level Rp14.260 per dolar . Sebelumnya, spot berakhir menguat tipis 5 poin atau 0,04% di posisi Rp14.247,5 per dolar pada Selasa (14/9) kemarin.

Departemen AS melaporkan bahwa indeks konsumen (consumer price index) negara tersebut pada bulan Agustus 2021 mengalami inflasi sebesar 0,3% dari bulan sebelumnya. Sementara, inflasi tahunan tercatat 5,3%. Angka tersebut sedikit di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memprediksi inflasi bulanan sebesar 0,4% dan inflasi tahunan sebesar 5,4%.

Komoditas energi menyumbang sebagian besar kenaikan inflasi untuk bulan tersebut, dengan indeks naik 2% dan harga bensin naik 2,8%, sedangkan harga makanan naik 0,4%. Namun, harga mobil dan truk bekas, yang telah menjadi pengumpan utama untuk inflasi inti, turun 1,5% pada bulan Agustus, walaupun masih naik 31,9% secara year-on-year.

Pejabat sendiri sebelumnya percaya ledakan inflasi tahun ini akan bersifat sementara dan karena faktor-faktor yang akan segera memudar. Mereka mengutip kemacetan rantai pasokan, kekurangan produk penting seperti semikonduktor, dan permintaan barang terkait pandemi yang meningkat sebagai kontributor utama yang pada titik tertentu akan kembali ke tingkat normal.

“Angka inflasi yang lebih lemah menyebabkan mendorong kembali taruhan bahwa dapat bergerak lebih cepat untuk mengurangi pembelian obligasi,” tutur analis keuangan senior di City Index, Fiona Cincotta. “Melemahnya inflasi akan membuat Federal Reserve tidak bersemangat untuk bergerak sebelum waktunya.”

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, seperti dilansir dari Kontan, mengatakan bahwa pergerakan rupiah kali ini ditopang oleh sentimen positif dari dalam negeri, berupa penyesuaian dan relaksasi level PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) di berbagai daerah di Indonesia. Adapun faktor eksternal yang akan memengaruhi gerak mata uang Garuda berasal dari rilis data inflasi AS.

“Rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan akan berpotensi mendorong ekspektasi pelaku pasar terhadap kepastian tapering off sehubungan dengan rapat FOMC di minggu depan,” kata Josua. “Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati rilis data neraca dagang Agustus 2021, yang diperkirakan akan mencatatkan surplus neraca dagang sebesar 2,68 miliar .”

Loading...