Inflasi AS Loyo, Rupiah Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - beritakompas.comRupiah - beritakompas.com

inflasi AS bulan Agustus 2018 yang dilaporkan lebih lambat daripada konsensus , membuat greenback bergerak lebih rendah dan mampu dimanfaatkan rupiah untuk terus menguat pada Jumat (14/9) sore. Menurut paparan Index pukul 15.56 WIB, mata uang Garuda menguat 33 poin atau 0,22% ke level Rp14.807 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah di posisi Rp14.835 per dolar AS, melemah 41 poin atau 0,28% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.794 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa melawan greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,50 dialami rupee India, disusul won Korea Selatan yang menguat 0,22%.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau bergerak lebih rendah pada hari Jumat, menyusul data inflasi AS yang lebih lemah dari prediksi dan makin meredanya kekhawatiran mengenai tensi dagang AS-China. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,006 poin atau 0,01% ke level 94,512 pada pukul 11.20 WIB, setelah kemarin sudah berakhir di area merah.

Seperti diberitakan CNBC, Departemen Tenaga Kerja AS baru saja melaporkan bahwa inflasi negara tersebut sebesar 0,2% secara bulanan pada Agustus, setelah meningkat dengan besaran yang sama di bulan sebelumnya. Capaian inflasi bulan kedelapan ini lebih lambat dari konsensus Reuters yang mengestimasikan nilai inflasi sebesar 0,3% secara month-to-month.

Meski inflasi sedikit melambat di bulan lalu, tekanan inflasi nampak masih cukup kuat, utamanya didorong oleh pasar tenaga kerja yang solid serta pertumbuhan AS yang masih kencang. Dari indikator yang digunakan The Federal Reserve untuk mengukur inflasi, sejauh ini hasilnya masih positif. Indeks Personal Consumption Expenditure inti (Core PCE) meningkat 2% secara tahunan pada Juli, sesuai dengan target bank sentral.

Di belahan dunia yang lain, nilai tukar mata uang lira terpantau bangkit, sempat menguat hingga 5%, setelah bank sentral Turki menaikkan acuan satu minggu repo sebesar 625 basis poin menjadi 24% pada hari Kamis, dalam upaya menstabilkan mata uang. Meski demikian, lira kembali bergerak sedikit rendah pada level 6,137 per dolar AS pada Jumat siang.

“Kenaikan suku bunga oleh bank sentral Turki layak mendapat pujian, tetapi titik kunci yang akan datang adalah pandangan Presiden Erdogan tentang pengetatan moneter,” kata ekonom senior emerging market di SMBC Nikko Securities, Kota Hirayama. “Adalah naif untuk mengasumsikan bahwa Erdogan akan terus menghormati independensi bank sentral. Bank sentral Turki akan kehilangan kredibilitas lagi dan kenaikan suku bunganya akan sia-sia jika kebijakan moneter terganggu oleh politik.”

Loading...