Inflasi April Rendah, Rupiah Tetap Gagal Menguat di Akhir Dagang

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Meski inflasi bulan April 2018 dilaporkan cukup rendah, namun rupiah gagal terkerek ke zona hijau setelah indeks dolar AS masih berkutat di dekat level tertinggi dalam empat bulan. Menurut catatan Index pukul 15.58 WIB, mata uang NKRI mengakhiri Rabu (2/5) ini dengan pelemahan sebesar 35 poin atau 0,25% ke level Rp13.948 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup turun 20 poin atau 0,14% di posisi Rp13.913 per dolar AS. Pagi tadi, tren negatif mata uang Garuda berlanjut dengan dibuka terdepresiasi 15 poin atau 0,11% ke level Rp13.928 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki kekuatan untuk bergerak ke zona hijau, mulai awal hingga akhir dagang.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia sepanjang bulan April kemarin mengalami inflasi sebesar 0,10%. Meski lebih rendah dibandingkan bulan Maret yang sebesar 0,20%, namun angka ini masih lebih tinggi dibandingkan April 2017 yang tercatat sebesar 0,09%. Sementara itu, tingkat inflasi secara tahun kalender sebesar 0,91% dan tingkat inflasi secara tahunan sebesar 3,41%.

“Secara umum, inflasi pada bulan April 2018 masih terkendali dan cukup rendah karena dipengaruhi oleh panen raya,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yuniati Rusanti, dalam konferensi pers di . “Kalau dilihat lebih detil, bahan mengalami deflasi -0,26%. Karena, beras yang turun, andil -0,08%. Ikan segar juga memberikan andil deflasi sebesar -0,03%, dan cabai merah -0,03%.”

Sayangnya, rilis data ekonomi dalam negeri tidak mampu menyokong pergerakan rupiah untuk menguat. Pasalnya, dari global, indeks dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi empat bulan menjelang hasil rapat , didukung prospek ekonomi AS yang kuat. Mata uang Paman Sam tersebut hanya melemah tipis 0,073 poin atau 0,08% ke level 92,376 pada pukul 11.39 WIB.

Seperti dilansir Reuters, pasar saat ini tengah menantikan hasil FOMC meeting yang akan dirilis Kamis (3/5) pagi WIB. Meski diyakini masih akan mempertahankan suku bunga acuan mereka, namun bank sentral AS tersebut diprediksi akan menaikkan biaya pinjaman dalam pertemuan kebijakan bulan Juni mendatang.

“Pernyataan The Fed yang bernada hawkish dan situasi pasar tenaga kerja yang optimistis dapat menjaga tren kenaikan dalam jangka pendek,” tutur market strategist di IG Asia Pte, Jingy Pan. “Namun, kemungkinan pemanggilan Presiden Donald Trump berikut tantangan yang diperkirakan datang dari pertemuan AS-China berpotensi menggoyahkan reli dolar AS.”

Loading...