Magang Asing Kurang Tertarik, Industri Perikanan Jepang Krisis Pekerja

Ilustraasi : Tenaga kerja di industri perikanan - supplychainindonesia.com

TOKYO – Dengan populasi yang terus menurun, mengeluarkan berbasis keterampilan pada tahun lalu dalam upaya untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Industri perikanan khususnya, berharap untuk dapat mempekerjakan hingga 9.000 tenaga kerja selama lima tahun ke depan, termasuk para nelayan pemula asal , dengan bayaran yang menggiurkan. Sayangnya, banyak yang memilih negara lain karena menawarkan upah yang lebih banyak serta kemudahan .

Dilansir Nikkei, Sutriyo, Faizin, dan Dadang datang ke Jepang selama musim dingin setelah lulus dari sekolah menengah perikanan di Indonesia. Mereka memulai tugas tiga tahun sebagai pekerja asing trainee pada bulan Maret di atas kapal Mitsumaru, sebuah kapal nelayan yang berbasis di Kota Tosa, Jepang bagian selatan. Tiga pekerja magang ini bekerja mulai matahari terbit hingga terbenam, sedangkan malamnya bergiliran berjaga-jaga dan memastikan kapal tetap aman.

tersebut tampak berat serta sulit, dan mereka juga menghabiskan sedikit waktu di darat. Namun, bayaran yang diterima, sekitar 1.500 AS per bulan, adalah beberapa kali lipat dari penghasilan mereka di rumah. “Ibu saya bekerja sangat keras untuk membesarkan saya, dan saya ingin membelikannya sawah,” kata Sutriyo.

Jepang adalah negara nelayan top dunia pada dekade 1980-an. Namun, jumlah pekerja di industri perikanan telah turun dua pertiga menjadi sekitar 150.000, seiring pada nelayan yang terus menua. Kota-kota nelayan yang semarak sekarang menghadapi eksodus pekerja mudanya, yang mengejar pekerjaan dan peluang lain di kota-kota besar seperti Tokyo.

Sebaliknya, kapal-kapal penangkap ikan mengandalkan teknisi magang asing, yang merupakan bagian dari program pemerintah Negeri Sakura yang dirancang untuk memberikan pelatihan di tempat kerja kepada para pekerja dari negara-negara . Lebih dari 1.700 pekerja magang bekerja di kapal penangkap ikan Jepang sepanjang tahun lalu, demikian menurut badan perikanan setempat.

Dikatakan kapten kapal Mitsumaru, Takashi Okamoto, lima dari sembilan awak yang dimilikinya adalah pekerja magang asing. Menurutnya, bahkan ketika mereka beriklan di sekolah menengah perikanan setempat, hampir tidak ada siswa lokal yang tertarik. “Tanpa pekerja magang, ini tidak akan bertahan,” ujar Okamoto.

Industri perikanan Jepang menargetkan bisa menarik hingga 9.000 orang tenaga kerja asing selama lima tahun ke depan. Mereka sudah melakukan ujian kualifikasi pertamanya untuk visa baru di Jakarta selama Januari kemarin. Indonesia sendiri menempati peringkat sebagai negara nelayan terbesar kedua di dunia, dan mereka juga menyediakan mayoritas magang asing untuk Jepang. Namun, hanya 19 orang yang mengajukan dari 100 slot yang tersedia.

Menurut seorang guru sekolah perikanan setempat, siswa lebih tertarik pada Korea Selatan, yang membayar lebih dari Jepang, atau Taiwan, karena lebih mudah untuk mendapatkan visa. Pembatasan perjalanan dan penundaan visa yang disebabkan oleh wabah coronavirus juga mempersulit masalah bagi industri perikanan Jepang. “Jika aliran pekerja magang asing membeku dalam waktu yang lama, kami tidak akan dapat merencanakan masa depan,” tambah Okamoto.

Loading...