Indonesia Resmi Resesi, Rupiah Tetap Berakhir Menguat 1,18%

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

JAKARTA – Rupiah tetap tidak tergoyahkan di area hijau pada perdagangan Jumat (6/11) sore meski dalam negeri kuartal III 2020 dilaporkan mengalami kontraksi, membuat resmi memasuki resesi. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir menguat 170 poin atau 1,18% ke level Rp14.210 per AS.

Sementara itu, data yang diluncurkan Bank Indonesia pukul 10.00 WIB tadi menetapkan referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.321 per dolar AS, menguat 118 poin atau 0,82% dari sebelumnya di level Rp14.439 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah mata uang Asia mengungguli , termasuk ringgit Malaysia, rupee India, dan rupiah.

Sebenarnya, situasi dalam negeri tidak mendukung rupiah. Pasalnya, menurut terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin (5/11), pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2020 dilaporkan mengalami kontraksi 3,49%. Sebelumnya, ekonomi domestik sudah minus 5,32% pada kuartal II 2020, sehingga Indonesia dipastikan memasuki masa resesi.

“Momentum penguatan rupiah kemungkinan bertahan seiring dengan pelaku global yang tampaknya masih tertarik untuk masuk ke aset berisiko,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, disalin dari . “Berita mengenai Joe Biden yang kemungkinan besar menang dalam pemilihan presiden AS telah mendorong sentimen positif ke aset berisiko.”

Selain itu, sentimen positif datang dari pasar global, ketika indeks saham Asia rally ke level tertinggi hampir tiga tahun, sedangkan dolar AS tetap lesu dan imbal hasil obligasi AS tergelincir, sebagai antisipasi bahwa legislatif AS yang terpecah akan membatasi perubahan kebijakan utama dan mempertahankan status quo pada kebijakan ekonomi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,11 poin atau 0,12% ke 92,635 pada pukul 11.26 WIB.

Dilansir dari Reuters, investor bertaruh bahwa Joe Biden akan menjadi presiden AS  berikutnya, tetapi Partai Republik akan mempertahankan kendali atas Senat, yang akan menyulitkan Partai Demokrat untuk mengeluarkan stimulus fiskal yang lebih besar. Biden mempertahankan keunggulan atas Donald Trump, tetapi beberapa bagian penting masih menghitung suara, sehingga ketidakpastian masih tetap tinggi.

“Ada lampu hijau untuk menjual kembali dolar AS, mencerminkan penurunan suku bunga riil di masa lalu,” papar kepala strategi valuta asing di National Bank Australia di Sydney, Ray Attrill. “Ada argumen yang akan dimiliki Federal Reserve untuk mendukung aset berisiko. Tren pandemi masih berada di arah yang salah.”

Loading...