Indonesia Resesi, Rupiah Tetap Berakhir Menguat

Rupiah - m.harianjogja.comRupiah - m.harianjogja.com

JAKARTA – Sempat terpeleset, akhirnya mampu nangkring di zona hijau pada Selasa (20/10) sore ketika ekonomi dikatakan sudah masuk resesi karena terkontraksi selama dua bulan berturut-turut. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, mata Garuda ditutup menguat 50 poin atau 0,34% ke level Rp14.657,5 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Indonesia jam 10.00 WIB tadi menempatkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.729 per dolar AS, menguat 12 poin atau 0,08% dari sebelumnya di level Rp14.741 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, sejumlah harus takluk melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,16% dialami baht Thailand.

Kemarin (19/10), Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran -1% hingga -2,9% pada kuartal III 2020. Sementara, di kuartal sebelumnya, ekonomi dalam negeri sudah minus 5,32%. “Secara overall (2020), ekonomi kita akan minus 0,6% sampai minus 1,7%,” tutur Sri Mulyani, dilansir CNBC Indonesia.

Dengan angka-angka tersebut, Indonesia sebenarnya secara resmi sudah masuk ke jurang resesi, menyusul negara-negara lainnya yang sejak kuartal II telah mengalami resesi akibat pandemi COVID-19. Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, mengatakan bahwa semua negara yang masuk jurang resesi ini memiliki ciri-ciri yang sama, yakni perekonomian terkontraksi dua kuartal berturut-turut, serta terjadi deflasi atau inflasi yang berkepanjangan.

“Negara mengalami resesi juga terlihat dari semua sektor lapangan usaha, terutama manufaktur yang tertekan sangat dalam. Hal ini berdampak pada tingkat pengangguran yang melonjak tajam,” imbuh Bhima. “Selanjutnya, negara yang sedang resesi juga mengalami penurunan tajam pada kinerja ekspor dan impor akibat tidak adanya aktivitas ekonomi.”

Dari pasar global, yuan bertahan di dekat level tertinggi dua tahun terhadap dolar AS dalam pada hari Selasa, di tengah tanda-tanda pemulihan ekonomi China yang kuat, sedangkan dolar Australia merosot ke level terendah tiga minggu karena bank sentral setempat tampaknya akan meningkatkan pelonggaran moneter. Yuan offshore terpantau berada di level 6,6807 per dolar AS, setelah kemarin sempat nangkring di posisi 6,6695 atau level tertinggi sejak Juli 2018.

Kenaikan yuan, seperti disalin dari Reuters, datang karena data ekonomi terbaru menunjukkan pemulihan di sektor konsumen China, membantu meningkatkan tidak hanya mata uang setempat, tetapi juga lainnya, termasuk euro. “AS harus bergantung pada kebijakan moneter yang mudah untuk mendukung ekonomi dan itu akan terus menekan greenback. Yuan di luar negeri adalah perwujudan paling jelas dari itu,” kata kepala FX di State Street Bank cabang Tokyo, Kazushige Kaida.

Loading...