Indonesia Resesi Teknikal, Rupiah Tetap Berakhir Positif

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Rupiah ternyata tetap mampu melaju di teritori hijau pada Rabu (5/8) sore, ketika ekonomi dalam negeri kuartal kedua 2020 dilaporkan mengalami kontraksi, menyebabkan mengalami resesi teknikal. Menurut data Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda ditutup menguat 75 poin atau 0,51% ke level Rp14.550 per AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32% secara tahunan, turun tajam dibandingkan kuartal kedua tahu sebelumnya yang tumbuh 5,01%. Dengan kontraksi ekonomi dua kuartal berturut-turut, Indonesia dipastikan secara teknikal memasuki masa resesi.

“Kondisi tersebut tidak terlepas dari tekanan ekonomi akibat penyebaran wabah (COVID-19) yang melanda berbagai . Akibatnya, kinerja industri maupun mengalami penurunan drastis,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, dilansir Viva. “Kita tahu bahwa COVID-19 membawa dampak luar biasa buruk, telah menciptakan efek domino, dari masalah kesehatan menjadi masalah sosial dan ekonomi.”

Efek pandemi bisa tergambar pada produksi mobil yang hanya mencapai 41.520 unit atau turun 85,02% secara tahunan, dengan penjualan yang cuma 24.042 unit atau anjlok 89,44% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan sepeda motor secara wholesale pada kuartal kedua mencapai 313.625 unit atau melorot 79,70% secara tahunan.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, sempat mengatakan bahwa produk domestik bruto (PDB) Indonesia sudah pasti tumbuh negatif pada kuartal kedua tahun ini. Bahkan, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi dalam negeri bisa negatif 3% sampai 5%. “Namun, kami berusaha supaya kuartal ketiga, apa pun itu trennya, pokoknya harus positif, artinya pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga harus lebih baik dari kuartal kedua,” katanya.

Dari , indeks dolar AS jatuh pada hari Rabu, mencapai level terendah lima bulan terhadap yuan China, karena paket bantuan coronavirus terbaru terhenti di Kongres dan imbal hasil AS merosot ketika pelonggaran moneter lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mendukung perekonomian. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,273 poin atau 0,29% ke level 93,109 pada pukul 12.20 WIB.

“Performa ekonomi AS yang unggul, relatif terhadap zona Eropa dan Jepang, tidak lagi menjamin, mengingat kerusakan akibat pandemi COVID-19,” ulas kepala strategi J.P. Morgan Asset Management di Asia, Tai Hui, dilansir Reuters. “Suku bunga juga menyatu dengan suku bunga negara maju lainnya, yang berarti bahwa dolar AS kurang menarik.”

Loading...