Indonesia Resah dengan Tingginya Harga Minyak Pasca Meninggalkan OPEC

sukses membuat terkejut setelah memutuskan untuk memangkas produksi pada konferensi ke-171 mereka di Wina, Rabu (30/11) lalu. Namun yang paling mengejutkan adalah aksi menarik diri secara sementara dari pertemuan negara-negara penghasil minyak tersebut usat bergabung kembali di akhir tahun 2015.

“Kami bergabung kembali karena kami ingin informasi tentang turunnya , serta kondisi persediaan di setiap negara,” ujar Presiden RI Joko Widodo di Jakarta, Kamis (1/12). “Namun, demi peningkatan anggaran negara, tidak ada masalah bagi kita untuk meninggalkannya lagi.”

Dampak ekonomi dari Indonesia meninggalkan kartel minyak akan terbatas, karena Indonesia sendiri adalah pengimpor minyak. Namun ini juga menjadi sebab mengapa para pengamat khawatir lantaran kenaikan harga minyak bisa berdampak besar pada perekonomian negara serta politiknya.

Usai keputusan OPEC memangkas produksi, patokan minyak mentah Brent internasional naik ke level tertinggi sejak akhir Oktober, yakni di atas $ 52 per barel.

Berdasar data yang dirilis pada Kamis (1/12) kemarin menunjukkan bahwa di Indonesia bulan November mencapai 3,58% dibanding tahun sebelumnya, naik dari bulan Oktober 3,31%. Namun dengan naiknya harga minyak ditambah dengan lemahnya rupiah, maka ada ruang untuk percepatan lebih lanjut.

“Katakanlah skenario terburuk – harga minyak naik, dan tetap di atas $ 60 per barel untuk jangka waktu lama, menyesuaikan harga BBM yang lebih tinggi – maka akan ada dampak pada inflasi,” ujar Leo Putera Rinaldy, ekonom Mandiri Sekuritas. Indonesia menyesuaikan harga bensin rutin tiap 3 bulan berdasar pergerakan harga minyak dan nilai tukar rupiah.

“Saya pikir itu adalah dampak negatifnya, karena akan mengekang daya beli di Indonesia. Dan jika daya beli di Indonesia dikekang, akan ada dampak pada konsumsi pribadi di Indonesia,” imbuhnya.

Loading...