Jadi Produsen Baterai EV, Indonesia Masih Butuh Investor Asing

Indonesia berambisi untuk menjadi produsen baterai EV (electric vehicle) dunia - autonetmagz.comIndonesia berambisi untuk menjadi produsen baterai EV (electric vehicle) dunia - autonetmagz.com

Dengan cadangan nikel yang berlimpah, diperkirakan lebih dari 50 juta ton dan bisa bertahan lebih dari 30 tahun, berambisi untuk menjadi baterai EV (electric vehicle) dunia. Namun, untuk mewujudkannya, Indonesia masih bergantung pada investasi , karena kekurangan teknologi canggih yang dibutuhkan industri untuk mengolah menjadi baterai secara efisien.

Dilansir dari Nikkei, Presiden Joko Widodo telah berulang kali menekankan ambisinya untuk mengubah negara dari ekonomi berbasis komoditas menjadi ekonomi industri. Langkah paling baru adalah pendirian perusahaan induk baterai milik negara, memanfaatkan dunia yang berkembang untuk baterai kendaraan listrik. Selain itu, Indonesia telah memulai diskusi dengan dua pembuat kendaraan multinasional, membujuk mereka membantu mengembangkan rantai pasokan baterai EV yang diharapkan.

Perusahaan induk baterai milik negara, yang akan didirikan oleh Mind Id, Pertamina, dan PLN, diharapkan mengembangkan rantai pasokan domestik untuk baterai EV, dengan tujuan memproduksi baterai antara 8 hingga 10 Gigawatt-hours setiap tahun selama empat tahun ke depan. Mereka memperkirakan bahwa permintaan baterai global akan melonjak empat kali lipat selama tujuh tahun ke depan, menjadi 777 GWh, dengan sebagian besar permintaan berasal dari EV.

Ambisi Indonesia di sini bukannya tidak berdasar, dengan cadangan nikel yang melimpah, komponen utama EV. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, cadangan nikel Indonesia diperkirakan lebih dari 50 juta ton dan bisa bertahan lebih dari 30 tahun. Seiring dengan pertumbuhan pasar EV di seluruh dunia, Indonesia kini berfokus pada pengembangan dua campuran baterai berbasis nikel, yaitu nikel-kobalt-mangan dan litium-kobalt-nikel-aluminium, yang merupakan dua dari lima kombinasi terpopuler untuk baterai lithium-ion.

Pada saat yang sama, produsen mobil besar di AS, China, dan negara-negara Eropa sedang mempersiapkan penelitian mereka tentang EV di tengah meningkatnya kesadaran publik tentang manfaat lingkungan hijau dan bebas emisi karbon. Menurut PwC’s Digital Auto Report 2020, 68% konsumen yang disurvei di China lebih menyukai powertrains listrik daripada bensin, sedangkan di Jerman 46% dan di AS sebesar 37%. Ini semua adalah pasar yang berpotensi bagi Indonesia, karena produsen mobil akan membutuhkan pasokan nikel yang berkelanjutan dan tahan lama.

Produsen mobil listrik Tesla telah mendekati pemerintah Indonesia dengan maksud untuk membuka diskusi mengenai potensi investasi dalam industri aki mobil listrik, demikian keterangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada awal Oktober lalu, meski pembicaraan masih dalam tahap awal. Pemerintahan Jokowi telah menegaskan akan terus mendukung industri EV dengan memberikan insentif dan mempercepat pembangunan stasiun pengisian daya di seluruh negeri.

“Namun, untuk mewujudkan ambisinya dalam hal baterai EV, Indonesia masih harus sangat bergantung pada investasi asing,” tutur Hendra Lie, automotive industry leader di PwC Indonesia. “Meskipun punya cadangan nikel yang besar, negara ini masih kekurangan teknologi canggih untuk mengolah logam menjadi baterai secara efisien. Indonesia juga membutuhkan asing untuk membantu melaksanakan pekerjaan dan mentransfer teknologi ke mitra lokal untuk berkontribusi pada pengembangan industri di masa depan.”

Ditambahkan Lie, pemerintahan Jokowi tampaknya berada di yang benar untuk menarik investor, seperti yang ditunjukkan oleh undang-undang yang disebut Omnibus Law baru-baru ini. UU tersebut mempermudah regulasi di beberapa sektor, seperti pengadaan tanah untuk kepentingan umum, investasi, perpajakan, proyek strategis nasional, ekonomi, serta penelitian dan pengembangan.

Pemerintah mengharapkan Omnibus Law membantu menciptakan lingkungan yang lebih ramah bisnis dan merampingkan proses perizinan, yang pada akhirnya menarik lebih banyak investasi ke negara ini. Sebelumnya, pelaku bisnis dan investor telah menyatakan keprihatinannya tentang birokrasi Indonesia serta peraturan ketenagakerjaan yang kaku, terbukti dengan peringkat yang cuma menduduki posisi 73 dari 190 negara pada Indeks Kemudahan Berbisnis World Bank 2019.

“Omnibus Law juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memberikan kepastian hukum bagi dunia usaha dan menarik lebih banyak investasi untuk pertumbuhan negara,” sambung Lie. “Karena itu, inilah saat yang tepat bagi pemain baterai dan EV global untuk menoleh ke Indonesia, negara yang kaya akan sumber daya alam dan manusia, terutama dengan perubahan preferensi konsumen yang perlahan tetapi pasti lebih condong ke arah mobil listrik.”

Loading...