Malaysia Tingkatkan Perburuan Vaksin, Indonesia Pasarkan Remdesivir Perangi COVID-19

Obat Antivirus Remdesivir - farmasetika.comObat Antivirus Remdesivir - farmasetika.com

JAKARTA/KUALA LUMPUR – Dua negara tetangga, Indonesia dan Malaysia, bersamaan mengungkapkan langkah terbaru mereka untuk mengatasi kasus -19. Kamis (1/10) kemarin, Indonesia memperkenalkan obat antivirus yang dikenal sebagai remdesivir dan akan dipasarkan mulai bulan ini. Sementara, di Negeri Jiran, kementerian setempat mengungkapkan mereka sedang bernegosiasi dengan banyak produsen vaksin, hanya beberapa jam sebelum otoritas melaporkan jumlah harian tertinggi sejak Juni.

Dilansir dari Nikkei, farmasi terbesar di Indonesia, Kalbe Farma, telah bekerja sama dengan produsen obat generik India, Hetero, untuk memasok remdesivir kepada COVID-19. Obat tersebut diproduksi di India dan akan ke rumah sakit lokal di bawah merk Covifor melalui jaringan penjualan dan distribusi Kalbe yang dikenal luas. Ini adalah produk remdesivir pertama yang mendapatkan persetujuan untuk penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia atau BPOM.

“Produk saat ini sudah siap didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia,” kata Presiden Kalbe Farma, Vidjongtius, dalam konferensi pers. “Kami akan mendistribusikannya secepat mungkin untuk meningkatkan tingkat pemulihan pasien COVID-19. Kami berharap dapat menjual puluhan ribu vial remdesivir dalam beberapa bulan ke depan, masing-masing seharga Rp3 juta.”

Erlina Burhan, ahli paru di RS Persahabatan, rumah sakit rujukan nasional COVID-19 di Jakarta, mengatakan bahwa 25 pasien dengan gejala berat, sebagian menggunakan ventilator, akan menjadi yang pertama di Indonesia yang menerima obat tersebut. Hingga saat ini, katanya, pasien yang sakit parah telah diberi hydroxychloroquine, obat umum untuk malaria, dan/atau obat antivirus lain, favipiravir, dan produk bermerk Avigan.

Baik remdesivir dan favipiravir sebelumnya telah digunakan untuk mengobati Ebola. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa remdesivir telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam penelitian hewan untuk sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) dan sindrom pernapasan akut yang parah (SARS), yang juga disebabkan oleh , menunjukkan itu ‘mungkin memiliki beberapa efek pada pasien dengan COVID- 19’.

Remdesivir saat ini merupakan bagian dari pilihan pengobatan dalam uji klinis ‘solidaritas’ WHO, sebuah upaya internasional untuk menemukan terapi yang efektif untuk COVID-19. Perusahaan biofarmasi AS, Gilead Sciences, pengembang asli remdesivir, pada Mei lalu memperpanjang lisensi non-eksklusif sukarela kepada Hetero untuk memproduksi dan mendistribusikannya di 127 negara, termasuk Indonesia. Hetero sejauh ini telah memasok sekitar 800.000 dosis untuk 100.000 pasien di India, sementara beberapa di antaranya dijual ke negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Sundeep Sur, manajer negara di Amarox Pharma Global, anak perusahaan Hetero yang menangani impor, mengatakan bahwa pemasok India dapat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan Indonesia kapan saja. Dikatakannya, Amarox siap memasok setidaknya 200.000 vial ke Indonesia pada akhir tahun ini.

Sementara itu, di bidang vaksin, Kalbe berharap dapat mendistribusikan kandidat yang sedang dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi Korea Selatan, Genexine. Vidjongtius mengatakan, pihaknya akan mengambil bagian dalam uji klinis fase 2 yang sedang berlangsung, dengan produksi ditargetkan dimulai pada pertengahan 2021. Secara terpisah, presiden pembuat vaksin milik Indonesia, Bio Farma, mengatakan bahwa Sinovac asal China telah setuju untuk memberi vaksin dalam jumlah yang cukup untuk 50 juta dosis hingga Maret 2021, dan 210 juta lagi hingga akhir 2021.

Negeri tetangga, Malaysia, juga sedang meningkatkan perburuan pasokan vaksin, dengan mempertimbangkan sejumlah cara. Meskipun negara ini belum terpukul sekeras Indonesia, dengan total sekitar 11.500 kasus berbanding 291.000 kasus, ada kekhawatiran yang berkembang tentang gelombang baru setelah penghitungan Kamis kemarin mencapai 260 kasus.

Khairy Jamaluddin, Menteri Ilmu Pengetahuan, , dan Inovasi Malaysia, mengatakan bahwa pemerintah sedang bernegosiasi dengan ‘selusin’ produsen, dengan harga berkisar antara 8 hingga 20 dolar AS per orang. Dia mencatat, bagaimanapun, semua pemasok meminta pembayaran di muka, mendorong pemerintah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin untuk berhati-hati. “Ini pertama kalinya kami harus membayar di muka untuk sesuatu yang belum diproduksi dan diuji, sehingga kami berhati-hati dan mempelajari implikasi hukum,” kata Khairy.

Loading...