Gagal Tarik Investasi Asing, Indonesia Merugi di Tengah Konflik AS-China

Indonesia Merugi di Tengah Konflik AS-China - www.ilmu-ekonomi-id.comIndonesia Merugi di Tengah Konflik AS-China - www.ilmu-ekonomi-id.com

JAKARTA/SINGAPURA – Perang yang tidak kunjung usai antara AS dan memang berdampak besar pada pasar , tidak terkecuali di kawasan . Namun, di area Asia Tenggara, Indonesia dikatakan bisa menjadi satu-satunya negara yang mengalami kerugian jika masih gagal menarik asing untuk berinvestasi guna memotong tarif yang lebih tinggi.

Dilansir South China Morning Post, broker dari Maybank, Kim Eng, menuturkan bahwa Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina telah mengambil bisnis, sebagian besar dalam bentuk asing langsung (FDI) yang lebih tinggi, ketika Washington dan Beijing melakukan pemotongan tarif selama 13 tahun terakhir. Ekonom Lee Ju Ye, menambahkan, Vietnam telah muncul sebagai ‘penerima manfaat terbesar’, dengan lonjakan arus masuk FDI dari China dan Hong Kong sebesar 73 persen tahun lalu.

Malaysia juga mencatat masuknya uang dari China, meningkat awal tahun ini setelah hampir dua tahun menurun. Sementara itu, Singapura tidak ketinggalan menjadi ‘pemenang’ karena perusahaan yang pindah ke Malaysia kemungkinan akan mengambil pinjaman dari bank-bank di negara kota. “Bahkan Filipina, yang tidak benar-benar dikenal sebagai situs , juga menerima aplikasi FDI. Satu-satunya yang kalah sepertinya Indonesia,” kata Lee.

Meski begitu, Lee melanjutkan, Presiden Indonesia, Joko Widodo, agaknya sudah memperhatikan situasi tersebut. Bulan lalu, Jokowi, yang awal tahun ini dipilih untuk masa jabatan kedua dengan janji untuk meningkatkan ekonomi Indonesia, menuntut agar para menteri di kabinet kerjanya kelak bekerja lebih keras untuk mengambil keuntungan dari perubahan dalam rantai pasokan.

Jokowi mengutip angka-angka World Bank yang mengatakan dari 33 perusahaan China memindahkan operasi ke luar negeri, 23 di antaranya memilih Vietnam, sementara 10 pabrik lainnya pergi ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Memang, perusahaan elektronik asal Taiwan, Pegatron, sudah memutuskan membangun pabrik di Batam, tetapi perusahaan multinasional lainnya masih berhati-hati karena beberapa faktor, seperti undang-undang ketenagakerjaan yang mengharuskan pengusaha membayar pesangon yang tinggi.

Indonesia baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menurunkan pajak perusahaan hingga 20 persen dari tarif saat ini 25 persen. Seperti Jakarta, negara ASEAN lainnya secara aktif mencari perusahaan China untuk pindah ke wilayah mereka. Thailand misalnya, meluncurkan paket relokasi yang disebut Thailand Plus, sedangkan Malaysia telah membentuk komite untuk mempercepat aplikasi yang terkait dengan investasi yang datang dari China.

Lee dan rekan ekonom lain, Linda Liu, juga berbicara tentang Belt and Road Initiative, rencana infrastruktur ambisius China untuk meningkatkan perdagangan global dan konektivitas. Mereka mengatakan bahwa meskipun China Global Investment Tracker, yang memantau kegiatan konstruksi dan investasi global Negeri Panda, mencatat penurunan total investasi dan kontrak konstruksi pada tahun 2018, ada lonjakan awal tahun ini.

Indonesia saat ini memiliki satu proyek Belt and Road Initiative, yakni kereta api berkecepatan tinggi dengan nilai 6 miliar dolar AS, yang menghubungkan Kota Jakarta ke Kota Bandung. Pemerintah juga bertujuan untuk menyalurkan lebih banyak investasi semacam itu ke empat ‘koridor ekonomi’ di seluruh kepulauan yang luas.

“Laos dan Kamboja juga telah melihat pertukaran yang lebih besar dengan China di bawah skema ini,” papar Liu. “Kami berpikir bahwa ASEAN akan mendapat manfaat karena China berfokus pada proyek-proyek yang lebih dekat ke rumah. Namun, jika berbicara tentang investasi, Negeri Tirai Bambu masih bukan asing terbesar di kawasan ini.”

Loading...