Kemajuan Stabil, Indonesia Bakal Jadi Kekuatan Penting Indo-Pasifik

Ilustrasi: peta kawasan Indo-Pasifik (sumber: theconversation.com)Ilustrasi: peta kawasan Indo-Pasifik (sumber: theconversation.com)

JAKARTA – Di kawasan Asia Tenggara, merupakan negara dengan luas dan ekonomi terbesar. Namun, sama seperti para tetangganya, selama ini masih belum menerima pengakuan global seperti yang seharusnya. Namun, dengan kemajuan yang stabil, termasuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan selama beberapa dekade, negara ini mungkin saja dapat menjadi kekuatan penting dalam membentuk masa depan tatanan Indo- dan seterusnya.

“Rumah bagi hampir 300 juta jiwa dan ekonomi triliun dolar AS, Indonesia bisa dibilang negara tak terlihat terbesar di dunia,” tutur Richard Heydarian, kolumnis dan penulis yang berbasis di Asia, seperti dilansir Nikkei. “Entah bagaimana, para pemimpin Indonesia yang dinamis, masakan mewah dan penuh warna, yang kontroversial dan mencekam, serta para diplomat dan penulisnya yang produktif, tidak pernah benar-benar berhasil menarik perhatian dunia.”

Indonesia sebenarnya tidak selalu merupakan bangsa yang tidak terlihat. Salah satu founding father negara ini, Soekarno, adalah sosok yang memainkan peran sentral dalam pembentukan Gerakan Non-Blok. Ia sering disebut seorang visioner sejati, tanpa lelah berusaha untuk mempersatukan Nusantara yang sangat terpecah-belah, hingga datang kudeta 1965 dan pembantaian berdarah, yang melahirkan apa yang disebut Orde Baru.

“Indonesia lantas berada dalam cengkeraman Soeharto, seorang ‘tiran yang biasa-biasa saja’ dalam kata-kata cendekiawan Indonesia, Benedict Anderson,” lanjut Heydarian. “Selama tiga dekade, mantan jenderal yang bersuara lembut itu mengawasi periode stabilitas ekonomi dan ketenangan politik. Dibandingkan dengan tetangganya yang bermasalah tetapi lebih berwarna, Indonesia mendadak membosankan.”

Presiden Jokowi (sumber: republika)

Presiden Jokowi (sumber: republika)

Namun, pada pergantian abad, setelah B.J. Habibie menggantikan Soeharto, reformasi politik dan pembukaan demokrasi mengubah Indonesia menjadi tempat yang lebih menggairahkan. Reformasi lantas mencapai puncak yang mustahil di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mencapai apa yang telah berulang kali gagal dilakukan oleh Thailand dan Myanmar, ia mengubah yang sangat terpolitisasi menjadi tentara profesional. Demokratisasi berjalan tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi, melontarkan Indonesia ke dalam jajaran Kelompok 20.

“Pada tahun 2014, gerakan akar rumput yang kuat, yang didukung kelas menengah progresif berusia muda, mengatasi oligarki yang mengakar kuat di Indonesia untuk melantik Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden kedua yang dipilih secara langsung di negara itu,” tambah Heydarian. “Namun, itu tidak berarti Indonesia telah menerima masa lalunya yang berdarah. Kekecewaan terhadap langkah progresif Jokowi juga tidak dapat disangkal.”

Selain mendukung perang narkoba ala Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Jokowi telah merangkul kelompok-kelompok agama fundamentalis, menunjuk pelanggar hak asasi manusia yang terkenal ke kabinetnya, hingga membatalkan inisiatif anti-korupsi atas nama infrastruktur yang cepat. Meski demikian, sulit untuk meremehkan transformasi luar biasa Indonesia dalam satu generasi.

“Kini, menjadi benteng dinamika sosial ekonomi, kelas menengah Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga berpendidikan lebih tinggi, menghasilkan generasi baru penulis kelas dunia seperti Eka Kurniawan dan pengusaha seperti pendiri Gojek, Nadiem Makarim,” kata Heydarian. “Dengan Luhut Panjaitan mengoordinasikan program pembangunan nasional yang mencakup ibukota baru dan pusat produksi aki mobil listrik, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk beralih dari negara pengekspor sumber daya menjadi negara ekonomi berbasis pengetahuan.”

Ilustrasi: Indonesia, kawasan perkotaan (pexels: Tom Fisk)

Ilustrasi: Indonesia, kawasan perkotaan (pexels: Tom Fisk)

Menurut Heydarian, setidaknya pada tahun 2050, Indonesia siap menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia, setelah China, India, dan AS, sehingga memungkinkannya untuk memainkan peran yang jauh lebih konstruktif di panggung global. Kartu strategis Indonesia adalah para diplomat yang terampil. Di antara mereka adalah mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, yang tidak hanya memainkan peran kunci dalam menyelesaikan sengketa perbatasan Thailand dan Kamboja, tetapi juga berkontribusi pada konseptualisasi tatanan Indo-Pasifik yang stabil dan inklusif.

Sementara itu, duta besar veteran, Dino Djalal, telah berkontribusi pada transformasi dramatis dalam hubungan Indonesia yang semakin hangat dengan Barat, secara pribadi mendirikan Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada kebijakan luar negeri terbesar di dunia. Menteri Luar Negeri saat ini, Retno Marsudi, juga telah meningkatkan jejak global, termasuk keterlibatan langsung dalam negosiasi konflik Israel-Palestina hingga pasca-kudeta Myanmar.

“Bukan pemerintahan Coca-Cola dengan ukuran apa pun, Indonesia belum menerima pengakuan global yang layak diterimanya meskipun telah terjadi pembukaan demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan selama beberapa dekade,” ujar Heydarian. “Terlepas dari itu, negara tak terlihat terbesar di dunia akan menjadi kekuatan penting dalam membentuk masa depan tatanan Indo-Pasifik dan seterusnya.”

 

Loading...