Indonesia Episentrum COVID-19, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (22/6) sore - today.line.me

JAKARTA – Rupiah praktis tidak memiliki cukup tenaga untuk mengatrol posisi ke area hijau pada perdagangan Senin (22/6) sore, tertekan sejumlah sentimen negatif, termasuk kenyataan bahwa Indonesia menjadi episentrum COVID-19 di . Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.42 WIB, mata uang Garuda melemah 49 poin atau 0,35% ke level Rp14.149 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan pagi tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.209 per , menguat 33 poin atau 0,23% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.242 per . Di saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah di pasar spot justru terpantau terdepresiasi 54 poin atau 0,38% ke posisi Rp14.154 per .

Seperti diberitakan Bisnis, reli nilai rupiah terhadap dolar AS memang diprediksi akan terhenti setelah Bank Indonesia memangkas acuan dan memberi sinyal perlambatan ekonomi. Posisi Indonesia yang kini sudah menyalip Singapura sebagai episentrum COVID-19 di Asia Tenggara, ditambah dengan penurunan acuan, membuat analis Rabobank dan HSBC Holdings Plc memprediksi mata uang Garuda akan melemah pada semester kedua 2020.

Dari pasar global, indeks dolar AS terpantau melandai pada hari Senin setelah meraih keuntungan moderat pekan lalu, karena investor memilih untuk mencari aset aman dalam menghadapi kekhawatiran baru tentang gelombang kedua . Mata uang Paman Sam melemah 0,111 poin atau 0,11% ke level 97,512 pada pukul 11.30 WIB.

Reuters melaporkan, dolar Australia menangkap dorongan kecil karena kepala bank sentral setempat mengisyaratkan pihaknya nyaman dengan kenaikan mata uang baru-baru ini dan mengatakan pandemi COVID-19 tidak seburuk yang ditakutkan pertama kali. Sayangnya, optimisme di tempat lain sulit diperoleh, ketika WHO melaporkan peningkatan rekor dalam kasus secara global pada Minggu (21/6), membuat negara bagian Victoria Australia kembali memberlakukan pembatasan.

“Kami memperkirakan pasar FX tetap terjebak antara pemulihan indikator ekonomi dan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi COVID-19 dalam minggu-minggu ke depan,” ulas analis di Barclays dalam sebuah catatan. “Sementara, kenaikan euro dimungkinkan jika data PMI (Purchasing Managers Index) yang keluar Selasa (23/6) mengalahkan ekspektasi.”

Loading...