Indonesia Deflasi, Rupiah Tetap Turun di Akhir Pekan

Rupiah - www.aktual.comRupiah - www.aktual.com

JAKARTA – gagal bergerak ke teritori hijau pada Jumat (1/3) sore, meski Indonesia dilaporkan mengalami deflasi sepanjang bulan Februari 2019, karena terkatrol PDB AS yang lebih baik dari perkiraan. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 51 poin atau 0,36% ke level Rp14.120 per .

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.111 per AS, terdepresiasi 49 poin atau 0,34% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.062 per AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,31% dialami rupiah, disusul yen Jepang yang turun 0,24%.

Pagi tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa sepanjang bulan Februari 2019, Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,08% secara bulanan, tetapi terjadi inflasi 2,57% secara tahunan. Deflasi pada bulan kemarin dipengaruhi oleh penurunan kelompok pengeluaran, khususnya bahan makanan yang mencatatkan deflasi sebesar 1,11% dengan andil 0,24%.

Sayangnya, data ekonomi domestik tidak cukup kuat menopang pergerakan rupiah karena indeks dolar AS relatif bergerak lebih tinggi sepanjang hari Jumat, didukung lonjakan imbal hasil Treasury AS setelah data produk domestik bruto (PDB) AS melampaui ekspektasi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,108 poin atau 0,11% ke level 96,265 pada pukul 13.45 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, sebelumnya dolar AS sempat melemah ketika euro menguat karena meningkatnya harapan bahwa ekonomi Eropa mungkin telah berubah ke arah positif. Namun, mata uang greenback berhasil bangkit menyusul data PDB AS yang meningkat 2,6% pada kuartal keempat 2018, di atas proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan 2,3%.

“Dolar AS mengalami lonjakan karena imbal hasil Treasury AS terpantau naik setelah data PDB AS terbaru yang kuat,” kata ahli strategi senior FX di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa. “Respons pasar yang kuat terhadap data PDB AS menunjukkan bahwa pasar saat ini berfokus pada faktor fundamental, bukan pada faktor geopolitik.”

Loading...