Indonesia Akhiri Kontrak Kerjasama dengan JPMorgan

Jakarta telah mengakhiri kontrak dengan JP Morgan Chase menyusul penurunan peringkat surat utang atau Indonesia dari overweight menjadi underweight atau turun dua peringkat pada November lalu. Menteri Keungan Sri Mulyani menyebut tersebut ‘menyesatkan’.

JPMorgan menyebut Indonesia sebagai salah satu ‘pecundang dari Trumponomics’ dalam laporan 13 November lalu, mengutip lonjakan pasar obligasi menyusul kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS.

Pemerintah Indonesia pada awal Desember lalu memutuskan untuk mengakhiri kontrak dengan JPMorgan sebagai respons dari laporan tersebut. Pada hari Selasa (3/1), Sri Mulyani menjelaskan alasan di balik keputusan pemerintah.

“Ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh faktor fundamental dan psikologis. Pemerintah terbuka untuk kritik, tapi JPMorgan memotong rekomendasinya tanpa penilaian yang kredibel,” ujar Menkeu Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan bahwa dalam laporan ‘menyesatkan’ itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dari Indonesia dan kemungkinan akan menakut-nakuti , meskipun banyak reformasi yang telah diperkenalkan oleh pemerintah selama beberapa tahun terakhir.

“Dan (reformasi) telah menyebabkan fundamental ekonomi yang lebih baik. Kami menjaga negara ini secara ,” ujar Sri Mulyani.

JPMorgan telah dihapus dari daftar terbaru dealer obligasi primer Departemen Keuangan. Efektif per 1 Januari 2017, JPMorgan juga tak lagi dianggap sebagai Bank Persepsi, yakni bank lokal dan bank asing yang ditunjuk oleh pemerintah Indonesia untuk menerima pembayaran dan beberapa sumber pendapatan lain bagi negara.

Dalam surat yang ditujukan kepada JPMorgan mengatakan bahwa downgrade bisa berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. Oleh sebab itu Kementerian Keuangan memutuskan untuk mengakhiri semua kerjasama dengan JPMorgan.

Secara terpisah pada Selasa (3/1) Menko Perekonomian Darmin Nasution mempertanyakan parameter yang dipakai JPMorgan dalam penelitian yang dipublikasikan pada bulan November lalu. Downgrade tersebut menurutnya sangat kontras dengan Fitch Rating yang bulan lalu meningkatkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi positif.

“Perekonomian Indonesia berada dalam kondisi stabil dan baik. JPMorgan harus membuktikan kredibilitas penelitiannya,” ujar Darmin.

Sementara itu JPMorgan menanggapi keputusan pemerintah bahwa di Indonesia masih terus beroperasi seperti biasa. “Dampak pada klien kami cukup minimal dan kami terus bekerja dengan Departemen Keuangan untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar JPMorgan.

Loading...