Indonesia Akan Jadi Pusat Produksi Smartphone Dunia?

Wapres JK saat berada di pabrik SAT Nusa Persada - metrotvnews.com

Tokyo/Mumbai – Produsen smartphone global semakin banyak yang memindahkan lokasi produksinya di Indonesia sebagai langkah untuk menumbuhkan pasar gadget di Tenggara.

Pabrikan lokal, Sat Nusapersada di Batam misalnya. Mereka merupakan perakitan smartphone yang telah dikontrak oleh raksasa elektronik asal Taiwan, Asustek Computer. “Kami adalah orang-orang yang telah mendukung pertumbuhan Asus,” ujar Bidin Yusuf, Direktur Operasional Sat Nusapersada.

asus untuk pengiriman smartphone di Indonesia mencapai 16% pada tahun 2015 berdasar data dari riset pasar AS, International Data Corp. Angka tersebut menandai kenaikan sebanyak 10 poin dari tahun 2014 dan berhasil mengangkat peringkat dari posisi ke-5 ke posisi kedua.

Menurut Sat Nusapersada, Indonesia memproduksi sekitar 30 juta smartphone dan per tahun. Angka tersebut mencapai hampir setengah dari sekitar 60 juta handphone yang diimpor tahun 2015. Perusahaan ponse rutin menjual smartphone dengan kisaran harga antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta dan lebih dari setengahnya merupakan perangkat yang didukung jaringan 4G.

Selain Asus, Sat Nusapersada juga merakit smartphone untuk Acer Taiwan dan Hisense China. Baru-baru ini bahkan mereka juga memperoleh pesanan dari Lava International India.

Samsung Electronics Korea Selatan juga memiliki jalur produksi smartphone sendiri di daerah pinggiran Jakarta. Mereka mengandalkan perakitan lokal tersebut untuk merilis produk terbarunya, Galaxy S7 dan perangkat 4G lainnya.

Panggung Electric Citrabuana sebagai produsen Huawei China saat ini mampu menghasilkan lebih dari 1 juta smartphone per tahunnya. Berdasar riset dari Emarketer, sekitar 55 juta orang Indonesia telah memiliki smartphone pada tahun 2015, melampaui 52 juta pengguna di Jepang. Pasar smartphone di Indonesia yang mempunyai populasi 250 juta diperkirakan mengalami pertumbuhan hingga 92 juta pengguna tahun 2019 mendatang.

Selain potensi pertumbuhan pengguna smartphone yang cukup subur, para pabrikan besar luar negeri beramai-ramai membangun pabrik perakitan di Indonesia berkat dukungan Indonesia.

Pada tahun 2015 ini pemerintah menetapkan bahwa setidaknya 30% smartphone 4G yang di dalam negeri harus diproduksi juga dalam negeri tahun 2017. Pemerintah berusaha mengurangi impor dari China dan Vietnam dan menumbuhkan angka industri dalam negeri.

Namun sebagian besar pabrik lokal melibatkan perakitan komponen impor. Sebab masih banyak komponen-komponen yang dikirim dari luar negeri. Hal inilah yang menyebabkan istilah ‘produksi dalam negeri’ menjadi sedikit rancu. Kebijakan pemerintah bisa menjadi bumerang karena mencegah masuknya komponen murah dari luar negeri yang berakibat pada naiknya harga smartphone di Indonesia.

Loading...