Jadi Hewan Suci, India Abaikan Kematian Sapi dalam Konflik Kashmir

Sapi Hewan Suci di India - internasional.kompas.comSapi Hewan Suci di India - internasional.kompas.com

KASHMIR – Konflik di Kashmir telah menelan banyak korban. Sayangnya, dari sekian banyak kematian di tersebut, hanya sedikit yang dijadikan berita utama oleh media . Padahal, korban tidak hanya datang dari umat manusia, melainkan juga sapi, yang notabene menjadi yang disucikan oleh India yang beragama Hindu.

Dilansir dari TRT World, desa terpencil bernama Pinglena menjadi tempat terjadinya baku tembak delapan belas jam antara pasukan India dan militan pada Februari lalu. Dalam insiden itu, 13 belas nyawa menghilang, namun hanya 10 yang menjadi berita utama. yang diterbitkan beberapa surat kabar setempat menuliskan ‘seorang warga sipil, empat personel tentara, seorang polisi, dan tiga militan tewas, sementara lima rumah rusak’.

Tiga nyawa lainnya, yang berupa ternak ‘dihilangkan’. Empat sapi, satu dari mereka hamil, dan seekor anak sapi milik seorang penduduk bernama Mohammad Abdullah Hajam berada di kandang ketika baku tembak dimulai. Ironisnya, sementara kematian di Kashmir ini ‘tidak disadari’, di sisa daratan India, sapi telah menduduki panggung utama dalam wacana sosial dan politik itu.

“Begitu ternak sampai di sana, senjata mulai meraung. Dua sapi jatuh di tanah dalam beberapa menit, satu terkena peluru di kakinya dan sapi lain bersama bayinya berhasil melarikan diri dengan selamat,” tutur Abdullah. “Para dokter lantas melakukan beberapa operasi dan mengamputasi kaki yang terluka parah. Namun, sapi saya sudah mati. Saya percaya dia sudah tidak kuat karena kehilangan banyak darah.”

Padahal, sejak Partai Bharatiya Janata (BJP), sebuah partai nasional, berkuasa di India, sapi dan insiden yang terkait dengan binatang tersebut telah menjadi berita utama secara teratur. Di negara tempat sapi begitu dihormati, disembah, dan bahkan dianggap suci oleh sebagian besar populasi Hindu, pembantaian terhadap sapi dan makan daging sapi sangat dilarang di sebagian besar negara bagian.

Apa yang disebut kekerasan main hakim sendiri, yang melibatkan serangan massa atas nama ‘perlindungan sapi’, menurut Human Rights Watch, telah membengkak sejak 2014 seiring dengan masa jabatan BJP. Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Reuters, total 63 serangan main hakim sendiri terjadi di India antara 2010 hingga pertengahan 2017. Dalam serangan-serangan ini, 28 orang India, 24 di antaranya adalah , terbunuh dan 124 terluka.

Namun, laporan media India mengklaim bahwa lebih dari dua lusin orang dipukuli hingga mati karena mereka dicurigai memiliki daging sapi atau menyelundupkan sapi dari 2014 hingga 2018. Lucunya, secara mengejutkan, pembunuhan sapi-sapi, terutama yang melibatkan pasukan India di Kashmir, tidak diperhatikan sebagai ‘kepentingan nasional’ dan negara menyatakan hanya sebagai ‘kerusakan jaminan’.

Orang-orang yang tinggal di pedesaan Kashmir biasanya bergantung pada pertanian untuk mata pencaharian mereka. Namun, karena inflasi, mereka gagal memenuhi pendapatan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Untuk mengatasi inflasi, penduduk desa ini lalu memelihara hewan peliharaan guna mendapatkan penghasilan tambahan, baik dengan menjual secara utuh maupun produknya.

Di Lembah Kashmir, lumbung kebanyakan dibangun di dekat rumah-rumah. Setiap kali tembak-menembak terjadi di daerah-daerah padat penduduk di Kashmir utara atau selatan, setidaknya beberapa hewan peliharaan terbunuh atau terluka. “Jika perang terjadi di daerah padat populasi, pembunuhan hewan terjadi, tetapi jika itu terjadi di pasar, maka tidak ada yang seperti itu,” ujar Muneeb Ul Islam, seorang jurnalis foto berbasis di Kashmir selatan.

Ada beberapa kelompok masyarakat sipil, organisasi lokal, nasional, dan internasional yang mendokumentasikan pembunuhan, cedera, dan kerusakan infrastruktur. Namun, tidak ada satu pun pemerintah atau LSM yang mempertahankan catatan kehidupan hewan peliharaan yang hilang akibat konflik yang sedang berlangsung.

Di suatu tempat yang dirusak oleh konflik dan dengan arus pelanggaran manusia yang tak berkesudahan, beberapa orang mungkin berpikir bahwa berbicara tentang hak-hak hewan adalah suatu lelucon. Padahal, jika seseorang harus memprioritaskan manusia atas hak-hak hewan, sentimen itu tidak adil mengingat betapa saling terkaitnya kehidupan manusia dan hewan, khususnya di pedesaan Kashmir.

“Saya percaya bahwa tidak ada yang menganggap serius hak-hak binatang di Kashmir,” tutur petugas penyuluh unggas Srinagar, Dr. Gowher Nabi, yang juga seorang anggota World Organization for Animal Health yang bermarkas di Paris. “Sangat disayangkan kita tidak tahu berapa banyak hewan telah terbunuh dalam konflik manusia. Semestinya, hak-hak hewan harus dihormati di zona konflik.”

Loading...