Indeks Harga Produsen AS Naik, Rupiah Loyo di Kamis Sore

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

tidak memiliki otot untuk keluar dari area negatif sepanjang perdagangan Kamis (12/7) ini setelah indeks AS dilaporkan lebih kuat dari perkiraan, sekaligus mengatrol greenback. Menurut paparan Bloomberg Index pukul 15.58 WIB, Garuda mengakhiri dengan pelemahan tipis 5 poin atau 0,03% ke level Rp14.390 per AS.

Sebelumnya, rupiah sudah ditutup terdepresiasi 18 poin atau 0,13% di posisi Rp14.385 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (11/7) kemarin. Tren negatif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka turun 30 poin atau 0,21% menyentuh level Rp14.415 per dolar AS. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak memiliki tenaga untuk keluar dari zona merah.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp14.435 per dolar AS, melemah 44 poin atau 0,30% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp14.391 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak mixed versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,59% dialami won Korea Selatan, sedangkan yuan China naik 0,28%.

Dari pasar global, indeks dolar AS bergerak ke level tertinggi enam bulan terhadap yen Jepang dan stabil terhadap mata uang utama lainnya, setelah data harga produsen AS yang sedikit lebih kuat menegaskan kembali ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan dua kali lagi di sisa tahun. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,022 poin atau 0,02% ke level 94,741 pada pukul 11.08 WIB.

Dilansir Reuters, di tengah kondisi pasar keuangan yang terganggu kekhawatiran akan perang perdagangan AS-China, fokus investor beralih pada data harga produsen yang sedikit lebih kuat dari perkiraan, yang meningkatkan kepercayaan terhadap terbesar di dunia. Indeks harga produsen AS pada bulan Juni dilaporkan menuju kenaikan terbesar dalam 6,5 tahun.

Para investor selanjutnya menantikan rilis data inflasi konsumen AS untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut tentang kapan dan seberapa cepat akan menaikkan suku bunga. Data inflasi konsumen AS bisa kuat karena harga minyak telah tinggi, yang turut mendukung greenback. “Tetapi, harga minyak mulai turun dan saya berpikir suku bunga jangka panjang tidak naik sebanyak itu,” ujar kepala strategi mata uang di MUFG Bank, Minori Uchida.

Loading...