Mengungsi ke Turki, Imigran Uighur Rawan Dideportasi dan Hilang Kontak dengan Keluarga

Ilustrasi: Imigran Uighur di Turki (sumber: afp.com)Ilustrasi: Imigran Uighur di Turki (sumber: afp.com)

ISTANBUL – Puluhan ribu orang diketahui telah melarikan diri ke untuk menghindari penganiayaan yang dilakukan . Sayangnya, tanpa mengantongi kewarganegaraan Turki, mereka rentan mengalami . Selain itu, ia mereka juga tidak bisa berbicara dengan kerabat mereka sewaktu-waktu karena takut diburu otoritas Negeri Panda.

Dilansir dari Deutsche Welle, orang Uighur adalah kelompok etnis berbahasa Turki, yang sebagian besar beragama . Banyak yang melarikan diri ke Turki karena mereka memiliki banyak kesamaan secara budaya. Selain itu, pemerintah Turki telah mempromosikan migrasi mereka selama bertahun-tahun dan saat ini negara tersebut menampung komunitas terbesar di diaspora Uighur.

Seorang pria Uighur bernama Abdüsükür bercerita bahwa ia adalah salah satu dari sekitar 50 ribu orang Uighur yang melarikan diri dari China sekitar lima tahun lalu untuk mencari keamanan di Turki. Pemerintah China sendiri telah menganiaya etnis minoritas, dengan saksi melaporkan bahwa orang Uighur telah ditahan dalam yang tidak manusiawi di kamp pendidikan ulang. Banyak dari mereka, termasuk anak di bawah umur, diambil dan dideportasi tanpa peringatan.

“Kami terus-menerus dianiaya di Turkestan Timur (Provinsi Xinjiang). Banyak orang dipenjara, atau dibawa ke kamp pendidikan ulang, hanya untuk berdoa,” katanya. “Saya takut tidak hanya untuk diri saya sendiri, tetapi juga keluarga saya. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk lari ke Turki. Namun, Uighur yang tinggal di Turki dilarang (oleh otoritas China) untuk berbicara dengan kerabat mereka di rumah.”

Imigran Uighur (sumber: dailysabah.com)
Uighur (sumber: dailysabah.com)

Ia sendiri mengaku sudah kehilangan kontak dengan keluarganya sejak lima tahun lalu. Abdüsükür bahkan baru mengetahui kematian ayahnya satu tahun kemudian ketika seorang teman memberitahunya. Abdüsükür kemudian segera menelepon ibunya di Xinjiang. Setelah mengonfirmasi kematian ayahnya, ibunya mengatakan kepadanya untuk tidak menelepon lagi, karena jika otoritas China mengetahui, mereka akan diburu. Itu terakhir kali dia berbicara dengan ibunya.

Di Turki, Abdüsükür secara teratur mengikuti pawai protes menentang penganiayaan terhadap warga Uighur dan menggunakan media sosial untuk meningkatkan kesadaran akan masalah di negara asalnya. Karena aksinya tersebut, ia ditangkap beberapa kali oleh otoritas Turki. Dia menjadi sangat takut ketika mereka melakukan penyelidikan atas tindakannya. Tanpa kewarganegaraan Turki, dia bisa dideportasi. Pada 2017, Ankara dan Beijing sudah menyetujui perjanjian repatriasi yang dapat mempercepat deportasi, meskipun parlemen Turki belum meratifikasi kesepakatan tersebut.

Sementara itu, Ömer Faruk, seorang imigran Uighur berusia 31 tahun, pindah ke Turki pada 2016. Ia memang memiliki kewarganegaraan Turki, yang berarti dia tidak dapat dideportasi. Namun, hidup di pengasingan masih merupakan perjuangan. Faruk, yang memiliki lima anak, harus meninggalkan kedua putrinya ketika pindah ke Turki.

Banyak imigran Uighur, termasuk Faruk, menemukan bahwa kerabat mereka, termasuk anak kecil dan bahkan manula, menghilang tanpa jejak di China. Faruk ingat pernah ditelepon istrinya saat bekerja sebagai TKI di Arab Saudi beberapa tahun lalu. Istrinya mengatakan bahwa polisi China telah datang ke rumah mereka, ingin menyita paspor mereka.

Faruk kemudian mendesak istrinya untuk memberi tahu polisi bahwa dia akan mengirimkan dokumen itu sebentar lagi. Lalu, dia menyuruh sang istri memesan penerbangan ke Turki dan segera meninggalkan negara itu. Sayangnya, anak perempuan mereka yang masih kecil, berusia 1,5 tahun dan 3 tahun, belum memiliki paspor. Istri Faruk dan dua putrinya yang masih kecil terpaksa tetap tinggal di China, sedangkan dia bertemu dengan tiga anaknya yang lain di Turki.

Beberapa waktu kemudian, istri Faruk terbang untuk bergabung dengannya di Turki, meninggalkan putri kecil mereka dengan ibu mertuanya. Dia mengatakan, saudara laki-lakinya ingin membantu putrinya mencapai Turki, tetapi ditangkap, sedangkan ibu mertua Faruk ditempatkan di kamp pendidikan ulang. “Saya tidak tahu di mana putri saya saat ini,” katanya, putus asa.

“Warga Uighur yang pindah ke negara lain, seperti Austria atau Mesir, lebih mudah berkumpul kembali dengan anggota keluarganya di luar negeri,” sambung Faruk. “Istri saya kehabisan akal, dia tidak bisa tidur di malam hari, dan anak-anak saya terus memikirkan saudara perempuan mereka. “Saya putus asa, apakah mereka menempatkan mereka di kamp? Tidak ada yang tahu.”

Loading...