IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

JAKARTA – praktis tidak memiliki kekuatan untuk merangsek ke zona hijau pada Rabu (10/4) sore, seiring di , setelah IMF menurunkan proyeksi global untuk tahun 2019. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, Garuda melemah 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.153 per AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.155 per , terdepresiasi tipis 5 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.150 per . Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berdaya melawan , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,18% menghampiri rupiah.

Pelemahan mata uang di negara berkembang salah satunya dipicu oleh laporan terbaru yang menuturkan bahwa IMF (Dana Moneter Internasional) memangkas proyeksi pertumbuhan global. Dalam rilis World Economic Outlook, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2019 menjadi 3,3%, turun 0,2 poin dari estimasi pada Januari.

Proyeksi laju pertumbuhan negara-negara maju adalah 1,8% untuk 2019 dan 1,7% untuk 2020. Sementara, untuk negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang, tingkat pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun menjadi 4,4% pada tahun 2019, atau 0,1 poin lebih rendah dibandingkan tahun kemarin. Meski begitu, ekonomi diharapkan bisa pulih menjadi 4,8% pada tahun depan.

“Ini mencerminkan revisi negatif untuk beberapa ekonomi utama, termasuk kawasan Eropa, Amerika Latin, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia,” ujar kepala ekonom IMF, Gita Gopinath. “Hilangnya momentum pertumbuhan bermula sejak paruh kedua 2018, ketika ekspansi ekonomi dunia melemah secara signifikan.”

Dari pasar global, aset safe haven seperti yen Jepang masih diminati karena kehati-hatian investor menanggapi ketegangan perdagangan AS-Eropa serta penurunan proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Yen menguat menuju level 111,35 terhadap dolar AS, sedangkan greenback sendiri terpantau bergerak melemah tipis 0,004 poin ke level 97,002 pada pukul 13.05 WIB.

“Mata uang Jepang mendapatkan dukungan lebih lanjut menjelang libur 10 hari yang belum pernah terjadi sebelumnya pada akhir April hingga awal Mei untuk menandai kenaikan kaisar baru,” tutur ahli strategi mata uang senior Daiwa Securities, Yukio Ishizuki, dilansir Reuters. “Di atas hal lain, perusahaan Jepang secara konservatif mengelola operasi, sehingga secara alami mereka akan menjual greenback.”

Loading...