IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi RI, Rupiah Berakhir Melemah

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

JAKARTA – Rupiah harus puas tertahan di area merah pada Kamis (8/4) sore setelah Dana Moneter Internasional atau IMF menurunkan proyeksi Indonesia dan lebih rendah dari . Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 40 poin atau 0,28% ke level Rp14.535 per AS.

Rabu (7/4) kemarin, IMF merilis update proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 dan 2022. Proyeksi bertajuk World Economic Outlook, Managing Divergent Recoveries edisi April 2021 tersebut menyebutkan bahwa untuk tahun ini, pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 4,9%, sedangkan pada tahun depan malah lebih rendah, yakni sebesar 3,4%.

Khusus untuk Indonesia, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi 4,3% untuk tahun 2021, turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 4,8%. Proyeksi ini juga lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi di -5, yakni Indonesia Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia, dengan pertumbuhan tertinggi diprediksi akan dicapai Filipina sebesar 6,9%.

“Mobilitas masyarakat yang sempat tertahan berangsur mulai meningkat, tetapi peningkatan ini terus mendapatkan pengawasan dari seluruh wilayah,” papar Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF, Gita Gopinath. “Di tengah ketidakpastian akibat pandemi, jalan keluar dari krisis ekonomi dan kesehatan ini semakin terlihat. Berkat para ilmuwan, ratusan juta orang sedang divaksinasi dan ini akan memberikan energi bagi pemulihan ekonomi di banyak negara tahun ini.”

Sementara itu, dari global, dolar AS masih diperdagangkan di dekat posisi terendah dua minggu terhadap sebagian mata uang utama pada hari Kamis, seiring penurunan imbal hasil Treasury setelah risalah Federal Reserve dirilis. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,610 poin atau 0,07% ke level 92,394 pada pukul 11.09 WIB.

Seperti dilansir dari Reuters, para The Fed tetap berhati-hati tentang risiko pandemi, bahkan ketika pemulihan AS mulai tampak, di tengah stimulus fiskal besar. Bank sentral tersebut tetap berkomitmen untuk menuangkan dukungan kebijakan moneter sampai rebound lebih aman, membuat greenback sempat turun menuju level terendah sejak 23 Maret lalu.

Loading...