Imbas Polemik Tarif Impor Baja & Aluminium di AS, Rupiah Rebound 18 Poin

Rupiah - www.republika.co.idRupiah - www.republika.co.id

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengawali pagi hari ini, Rabu (7/3) dengan penguatan sebesar 18 poin atau 0,13 persen ke level Rp 13.758 per dolar AS. Kemarin, Selasa (6/3) Garuda berakhir terdepresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 13.762 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.738 hingga Rp 13.790 per dolar AS.

Kurs dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,48 persen menjadi 89,624 di akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB di tengah perdebatan terkait aturan baja dan aluminium di Amerika Serikat. Berdasarkan dari sejumlah , Kepala penasihat Presiden AS Donald Trump, Gary Cohn dapat meninggalkan pemerintahan apabila yang diajukan Trump direalisasikan.

Trump diketahui mengumumkan rencana pemberlakuan tarif pada impor baja dan aluminium pekan lalu. Sejumlah pihak mengkhawatirkan jika tarif yang diusulkan justru akan meningkatkan kemungkinan terjadinya perang dagang dan merugikan ekonomi AS.

Para pelaku sedikit lega karena pada Senin (5/3) lalu Trump menuliskan cuitan di akun Twitter-nya bahwa rencana tarif impor dapat dihilangkan apabila kesepakatan NAFTA baru dan adil ditandatangani. Akan tetapi, menurut para analis berita tentang Cohn telah menciptakan ketidakpastian terkait perdebatan tarif dalam pemerintahan Trump. Oleh sebab itu para investor saat ini cenderung wait and see.

Pada sektor ekonomi, Departemen Perdagangan melaporkan bahwa pesanan baru AS untuk barang-barang manufaktur pada Januari 2018 mengalami penurunan 1,4 persen atau USD 6,9 miliar menjadi USD 491,7 miliar setelah naik berturut-turut selama 5 bulan.

Sementara itu, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri berpendapat jika pekan ini rupiah masih akan terus melemah akibat sentimen dari Amerika Serikat. Pasalnya pasar masih menanti kelanjutan pernyataan para pejabat The Fed sehubungan dengan rencana kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat.

Kemudian pasar juga masih mencermati perdebatan tarif impor aluminium dan baja di AS. “Meski belum pasti terealisasi, ini masih membuat pasar tidak stabil. Dampaknya memang masih mixed, tapi indeks dollar AS mulai berpotensi naik lagi,” kata Reny seperti dilansir Kontan.

Pekan ini pasar pun menanti data ketenagakerjaan AS pada Jumat (9/3) depan yang diperkirakan turun 4,1 persen menjadi 4 persen. Sedangkan nonfarm payroll Februari 2018 diprediksi naik dari 200.000 jadi 204.000. “Kalau data yang rilis sesuai ekspektasi, indeks dollar akan semakin kuat dan rupiah semakin tertekan di tengah minimnya sentimen domestik,” tegas Reny.

Loading...