Imbas Pemilu, Perang Dingin AS-Rusia Masuki Babak Baru

Hubungan AS dan akhir-akhir ini menuju babak baru dalam perang dingin di antara dua . Perang dingin ini terkait tuduhan serangan siber yang dilakukan terhadap institusi AS, termasuk Komite Nasional Demokrat dan juga kampanye calon presiden Hillary Clinton.

Sejak tahun 1940, Presiden yang baru terpilih akan dihadapkan pada keadaan kebijakan luar negeri yang sama, yaitu bagaimana berurusan dengan Rusia. Tetapi, kali ini, taruhannya lebih tinggi karena campur tangan Rusia dalam proses pemilihan Presiden AS dan juga pertikaian di Suriah.

Rusia dituding mendukung calon dari Partai Republik, Donald Trump, untuk mengisi kursi di Gedung Putih. Meski tidak ada bukti yang menyebutkan Trump pernah bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, namun badan inteligen AS, CIA, telah menyebutkan bahwa Rusia berulangkali menyusup ke AS untuk mendiskreditkan Hillary Clinton.

Meski peluang Trump untuk menjadi Presiden AS terbilang kecil, namun Putin telah memiliki tujuan lain jika ia kalah, yaitu ejekan yang mendiskreditkan sistem AS. Jika Hillary Clinton memang benar-benar menjadi orang nomor satu di Negeri Paman Sam, Putin pun sepertinya bakal menyambut “positif” hal itu.

Rusia sendiri memang ingin dianggap sebagai kekuatan besar, setara dengan AS, dengan kerajaan sendiri. Hal ini dapat dilihat pada pengiriman pasukan untuk operasi militer di Suriah dan juga konflik di Ukraina. “Masalah utama antara AS dan Rusia bukan semata-mata karena Putin, tetapi geopolitik. Putin atau rezim selanjutnya bakal menyelesaikan tantangan ini,” kata ahli di US National Security Council, Thomas Graham.

Presiden AS berikutnya memang harus mengakui bahwa peluang dengan Rusia kian hari semakin berkurang. Dia juga perlu meningkatkan kehadiran militernya di dan mencegah perang dingin menjadi konfrontasi yang akut.

Loading...