Imbas Pelemahan Yuan, Rupiah Jebol Level Rp15.200

Yuan, China, bank, melemah, terdepresiasi, mata uang, dolar, perdagangan, Bloomberg, cadangan, kas, ekspor, negara, ekonomi, imbal hasil, yen, Jepang, kurs, Bank IndonesiaIlustrasi: Kebijakan The People's Bank of China berimbas pada pelemahan Rupiah

Penurunan yang dialami , karena kebijakan pemotongan kas oleh People’s of , berimbas negatif terhadap negara berkembang lainnya, termasuk , pada perdagangan Senin (8/10) sore. Menurut paparan Index pukul 15.59 WIB, Garuda berakhir melemah 35 poin atau 0,23% ke level Rp15.218 per dolar AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp15.193 per dolar AS, terdepresiasi 11 poin atau 0,07% dari perdagangan sebelumnya di level Rp15.182 per dolar AS. Di saat yang hampir bersamaan, mayoritas mata uang Asia bertekuk lutut versus , dengan pelemahan terdalam sebesar 0,43% menghampiri yuan China.

Dari , indeks dolar AS terus bergerak menguat pada hari Senin, karena China memutuskan untuk melakukan pemotongan tajam dalam tingkat kas yang bank harus pegang sebagai cadangan, dengan membiarkan yuan jatuh meski pelemahannya tidak setajam yang dikhawatirkan. Mata uang Paman Sam terpantau naik 0,111 poin atau 0,12% menuju level 95,735 pada pukul 11.04 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, People’s Bank of China pada hari Minggu (7/10) kemarin memutuskan untuk memangkas tingkat kas yang bank harus pegang sebagai cadangan, dalam upaya mendukung ekonomi dalam negeri. Itu adalah pemangkasan keempat yang dilakukan bank sepanjang tahun ini dan datang ketika ekonomi China tengah berjuang di tengah perselisihan perdagangan dengan AS yang tidak kunjung rampung.

“Pemotongan kas China terbaru merupakan langkah lain untuk mencoba mendukung ekonomi domestik, di tengah kesulitan dari ketegangan perdagangan dengan AS,” ujar ahli strategi Westpac, Frances Cheung. “Kami percaya bahwa pihak berwenang akan merasa nyaman untuk beberapa kelemahan yuan asalkan ini tidak akan mengundang spekulasi yang tidak perlu.”

Setiap pelemahan yuan China cenderung melemahkan mata uang negara berkembang lainnya karena mereka ‘perlu terdepresiasi’ untuk menjaga ekspor tetap kompetitif. Mata uang Garuda misalnya, meluncur ke level terendah dalam lebih dari dua dekade pada awal pekan ini. Di sisi lain, kebijakan tersebut membuat investor memburu aset safe haven seperti yen Jepang dan dolar AS, terutama ketika imbal hasil Treasury AS meningkat.

Loading...