Imbal Hasil Treasury AS Drop, Rupiah Akhiri Pekan dengan Positif

Meski ‘tersengal-sengal’, akhirnya berhasil mempertahankan posisi di zona hijau sepanjang Jumat (23/2) ini, ketika indeks bergerak lebih rendah. Menurut Index pukul 15 59 WIB, Garuda menyelesaikan akhir pekan dengan penguatan sebesar 17 poin atau 0,12% ke level Rp13.668 per .

Sebelumnya, rupiah ditutup terdepresiasi 67 poin atau 0,49% di posisi Rp13.685 per dolar AS pada akhir dagang Kamis (22/2) kemarin. Kemudian, mata uang NKRI berhasil rebound dengan dibuka menguat 19 poin atau 0,14% ke level Rp13.666 per dolar AS pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot mampu bergerak di zona positif, mulai awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi mematok kurs tengah berada di posisi Rp13.670 per dolar AS, melemah tipis 5 poin atau 0,03% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.665 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,61% dialami peso Filipina.

Dari , indeks dolar AS berbalik melemah pada perdagangan Jumat ini, imbas penurunan yang dialami imbal hasil Treasury AS. Mata uang Paman Sam terpantau bergerak ke level 89,815 pada pagi tadi, setelah sebelumnya telah mencapai posisi tertinggi selama sepuluh hari di level 90,235 pada hari Kamis kemarin, namun masih dalam tren kenaikan mingguan sebesar 0,7%.

Imbal hasil obligasi 10-tahun AS turun ke level 2,926%, setelah sebelumnya naik ke posisi tertinggi dalam empat tahun di 2,957% pada hari Rabu (21/2). Meski demikian, indeks dolar AS masih bergerak stabil terhadap yen Jepang di posisi 106,825, setelah sempat turun hampir 1% semalam, usai membukukan level tertinggi di 108,00.

“Dolar AS telah menguat dalam beberapa hari terakhir, dan tiba saatnya beberapa penjualan muncul karena yield jangka panjang AS kembali turun untuk menemukan beberapa penawaran,” ujar ahli strategi FX senior di IG Securities di Tokyo, Junichi Ishikawa, seperti dilansir Reuters. “Imbal hasil mungkin sedikit menurun, namun pasar harus mewaspadai dampaknya terhadap saham yang masih berlangsung.”

Loading...