Imbal Hasil AS Naik, Rupiah Ditutup Melemah 0,04%

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

JAKARTA – tidak memiliki cukup tenaga untuk bangkit ke teritori hijau pada Selasa (12/1) sore ketika cenderung bergerak menguat, didukung imbal hasil AS yang terpantau lebih tinggi. Menurut paparan Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda ditutup melemah 5 poin atau 0,04% ke level Rp14.130 per dolar AS.

Sementara itu, menurut data yang dirilis pukul 10.00 WIB tadi, acuan Jakarta Interbank Spot Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.231 per dolar AS, terdepresiasi 0,54% dari sebelumnya di level Rp14.155 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang bergerak terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,71% dialami rupiah dan kenaikan tertinggi sebesar 0,12% menghampiri dolar Taiwan.

Menurut analisis CNBC Indonesia, dolar AS sebelumnya sudah tertekan dalam tiga bulan terakhir. Nilai tukar mata uang tersebut melorot setidaknya 3,18% dan dalam setahun ke belakang terdepresiasi nyaris 7%. Hal tersebut membuatnya menjadi ‘murah’ bagi sehingga menarik para pelaku pasar untuk membeli mata uang ini. Nah, permintaan yang meningkat, akhirnya membuat kurs dolar AS bangkit.

Berdasarkan laporan Reuters, dolar AS mampu mempertahankan kenaikan selama empat hari berturut-turut terhadap mata uang utama pada hari Selasa, didukung prospek stimulus fiskal besar-besaran, yang mendorong imbal hasil AS lebih tinggi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,108 poin atau 0,12% ke level 90,573 pada pukul 11.17 WIB.

Indeks dolar AS telah pulih dari level terendah hampir tiga tahun yang dicapai minggu lalu karena patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun mencapai 1% untuk pertama kalinya sejak Maret 2020 dan naik setinggi 1,148% semalam. Dukungan dari kenaikan imbal hasil sejauh ini mengalahkan kekhawatiran bahwa pengeluaran ekstra dapat memicu inflasi yang lebih cepat, yang biasanya akan membuat greenback kurang menarik.

“Ini rumit karena imbal hasil AS yang lebih tinggi memberikan penguatan pada dolar AS, tetapi stimulus dapat mendukung ekuitas AS, dan greenback akan tetap lemah,” kata kepala strategi FX G10 di Citigroup Global Markets Jepang di Tokyo, Osamu Takashima. “Dalam jangka menengah, kami tetap bearish terhadap dolar AS karena aset itu akan terlihat mahal.”

Loading...