Ikut Sumbang Pendapatan Negara, Ini Rincian Tarif PPh Pasal 22

Jakarta – Selama tahun 2016 lalu rupanya pajak di Indonesia gagal mencapai target. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan, realisasi pajak tahun lalu mencapai Rp 1.104 triliun, sedangkan pada APBN Perubahan 2016 memiliki target pajak negara sebesar Rp 1.355 triliun.

Menurut Direktur Kepatuhan dan Penerimaan Yon Arsal, tahun lalu berbagai sektor penerimaan mengalami berbagai perlambatan. Akan tetapi realisasi penerimaan pajak negara masih terbantu berkat adanya program pengampunan pajak alias .

Arsal mengatakan penerimaan dari tax amnesty mampu menyumbang Rp 104 triliun dari uang tebusan yang masuk. Sedangkan penerimaan dari sektor dan impor masih mengalami pertumbuhan yang negatif walaupun berkontribusi cukup besar.

“Kontribusi terbesar kalau kita lihat pasal 22 impor, salah satu terbesar juga yang targetnya 43 triliun di APBNP 2016, itu pencapaiannya hanya 87 persen. Sebenarnya kalau kita lihat tren ekspor impor Indonesia, itu dalam 3-4 bulan terakhir mengalami peningkatan. Tapi rate-nya masih negatif,” jelas Arsal.

Sebagai informasi, berikut ini besaran tarif pajak yang dikenakan berdasar PPh Pasal 22:

Klasifikasi Tarif PPh
Impor:
  • Dengan Angka Pengenal Importir (API)
2,5% x nilai impor
  • Non-API
7,5% x nilai impor
  • Yang tidak dikuasai
7,5% x jual lelang
Pembelian barang oleh DJPB, Bendahara Pemerintah, BUMN/BUMD 1,5% x harga pembelian (tidak termasuk PPN dan tidak final)
Penjualan hasil :
  • Kertas
0,1% x DPP PPN (tidak final)
  • Semen
0,25% x DPP PPN (tidak final)
  • Baja
0,3% x DPP PPN (tidak final)
  • Otomotif
0,45% x DPP PPN (tidak final)
Pembelian -bahan untuk keperluan atau ekspor 0,25% x harga pembelian (tidak termasuk PPN)
Impor kedelai, gandum, dan tepung terigu oleh importir dengan API 0,5% x nilai impor
Loading...