Ikut Program Tax Amnesty, Laba AirAsia Turun di Kuartal Kedua 2017

AirAsia - thetravellernews.comAirAsia - thetravellernews.com

KUALA LUMPUR – AirAsia baru saja mengumumkan laba bersih sebesar 92 juta ringgit yang diperoleh perusahaan selama April-Juni 2017. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu yang mencapai 342 juta ringgit. Program amnesti pajak di Indonesia serta operasi yang lebih tinggi dikatakan menjadi penurunan keuntungan maskapai asal itu.

Menurut Nikkei, pendapatan untuk kuartal kedua AirAsia naik 19 persen secara year-on-year menjadi 2,38 miliar ringgit, didorong oleh kenaikan lalu lintas sebesar 10 persen. Angka tersebut meliputi hasil dari konsolidasi penerbangan di Malaysia, Indonesia, dan juga Filipina. beban meningkat dua persen menjadi 89 persen, sedangkan pendapatan dari menerbangkan satu sejauh 1 km meningkat 11 persen.

Namun, kenaikan biaya sebesar 5 persen per kursi karena bahan bakar pesawat yang lebih tinggi, dan juga satu kali pajak sebesar 212 juta ringgit yang dibayarkan berdasarkan amnesti pemerintah Indonesia, membuat laba perusahaan turun. Seperti diketahui, pemerintah Indonesia sejak tahun lalu meluncurkan tax amnesty yang memungkinan perusahaan atau individu menyatakan ‘aset tersembunyi’ untuk membayar denda yang lebih kecil.

Sementara, pada semester pertama 2017, laba bersih kelompok tersebut melorot 37 persen menjadi 762 juta ringgit. Meski demikian, AirAsia tetap berencana menambah 22 armada pesawat pada akhir tahun ini guna memperkuat posisinya di jalur regional serta pasar domestik Malaysia, Thailand, dan Filipina. “Tahun ini adalah jumlah pesawat terbesar yang kami tambahkan dalam empat tahun terakhir,” ujar CEO AirAsia, Tony Fernandes.

Selain mengumumkan laba perusahaan, pada hari Selasa (29/8) kemarin, AirAsia juga menginformasikan kepada bursa efek bahwa akan melakukan reorganisasi internal, dengan menggunakan pertukaran saham untuk menciptakan perusahaan investasi induk. Berdasarkan rencana tersebut, saham AirAsia di Kuala Lumpur akan dialihkan ke perusahaan induk tanpa menambah jumlah saham yang diterbitkan.

Pertukaran saham ini akan diikuti oleh penyederhanaan, dengan perusahaan induk mengasumsikan status pencantuman AirAsia sebagai pengangkut anggaran murni, serta memiliki unit lainnya. Perusahaan percaya bahwa langkah itu, yang diharapkan rampung pada 31 Maret 2018, akan membantu menipiskan struktur perusahaan dan membuka nilai investasi pada anak perusahaan, termasuk penyewaan pesawat terbang dan layanan digital.

Loading...