Ibuprofen Tidak Disarankan untuk Gejala Virus Corona, Ini Alasannya

Obat Ibuprofen - www.tokopedia.comObat Ibuprofen - www.tokopedia.com

JENEWA – Dalam pandemi virus seperti sekarang ini, orang dengan seperti tekanan tinggi, kardiovaskular, dan diabetes, memang lebih rentan terkena daripada mereka yang tidak. Bukan hanya karena kesehatan mereka melemah, tetapi mungkin juga, diduga, karena mereka minum yang dapat menyebabkan parah dengan SARS-CoV-2, termasuk ibuprofen.

Dilansir dari Deutsche Welle, sekitar seperempat dari populasi dunia memiliki tekanan darah tinggi. Banyak orang menggunakan obat anti-hipertensi, seperti ACE inhibitor atau Sartan, yang diyakini dapat memicu infeksi virus corona baru yang parah. Obat-obatan diabetes seperti insulin sensitizer thiazolidinedione (glitazone) dan obat penghilang rasa ibuprofen juga diduga meningkatkan regulasi reseptor ACE2 yang memungkinkan virus memasuki sel.

Meskipun ini masih sebatas teori yang belum dikonfirmasi, yang juga belum didukung oleh penelitian yang dapat diandalkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa dalam kemungkinan infeksi corona, mereka yang terkena dampak tidak boleh mengonsumsi ibuprofen tanpa saran medis. Sebaliknya, WHO merekomendasikan parasetamol, demikian menurut juru bicara WHO, Christian Lindmeier, pada hari Selasa (17/3) di Jenewa.

Namun, mengingat kurangnya fakta dan data, para ahli virologi terkemuka di Jerman sejauh ini sangat berhati-hati tentang kemungkinan dampak negatif ibuprofen. Hal yang sama berlaku untuk acetylsalicylic acid preparations (ASS, aspirin) dan diclofenac, yang termasuk dalam kelompok bahan aktif ini. “Kami hanya tahu sedikit tentang patogenesis virus SARS-CoV-2, dan hingga saat ini belum ada data klinis,” kata ahli virus, Jonas Schmidt-Chanasit, dari Bernhard Nocht Institute for Tropical Medicine (BNITM).

Ahli virologi lainnya, Christian Drosten, dari Berlin Charité, juga masih ragu. Meskipun Covid-19 merupakan yang baru, virus corona lain telah dipelajari selama beberapa waktu, dan dengan ini ‘tidak ada indikasi bahwa asupan ibuprofen akan memperburuk apa pun’. Namun, semua ahli sangat menyarankan agar pasien tidak panik dan tidak lagi menggunakan ACE inhibitor atau terapi Sartan dan beralih ke obat-obatan dengan bahan aktif lainnya. Menurut WHO, jika seseorang positif, lebih baik mengonsumsi parasetamol daripada ibuprofen ketika melakukan pengobatan sendiri.

Dasar kecurigaan bahwa ACE inhibitor dan juga ibuprofen dapat memiliki efek negatif yang serupa adalah sebuah artikel yang diterbitkan dalam Lancet Respiratory Medicine pada 11 Maret 2020. Di dalamnya, tiga penulis, yakni L. Fang, G. Karakiulakis, dan M. Roth menjelaskan bahwa ACE inhibitor dan Sartan, juga thiazolidinediones dan ibuprofen, dapat memperburuk kondisi Covid-19. Namun, penulis secara eksplisit merumuskan ini sebagai hipotesis.

Tes dengan tikus telah menunjukkan bahwa ACE inhibitor dan penghambat reseptor angiotensin-1 benar-benar meningkatkan ACE2 dalam sel jantung, sedangkan tes dengan tikus diabetes telah menunjukkan pengaruh ibuprofen pada sistem regulasi. Namun, tanpa data dan bukti kuat untuk mendukungnya, masih mustahil untuk membuat penilaian yang andal berdasarkan temuan saat ini.

Permukaan sel memiliki reseptor ACE yang mengikat enzim ACE. Virus SARS, termasuk SARS-CoV-2 yang baru, menggunakan enzim transmembrane ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2) untuk memasuki sel inang mereka dan mulai melakukan replikasi. Para ilmuwan sendiri telah mengetahui tentang proses ini sejak epidemi SARS pada tahun 2002 silam.

ACE inhibitor yang digunakan secara terapi tidak berikatan langsung dengan ACE2, tetapi mencegat dan memblokir ACE. Diasumsikan bahwa reseptor ACE tetap bebas, yang memungkinkan virus untuk merapat dengan mereka dan menembus sel. Ada kemungkinan sel bahkan dapat meningkatkan jumlah reseptor ACE2 ketika enzim ACE dicegat dan memberikan virus berbahaya lebih banyak titik serangan.

Dalam kasus serangan virus, penurunan regulasi ACE2 akan menyebabkan hilangnya fungsi perlindungan alami, dan obat-obatan juga akan meningkatkan perkembangan penyakit paru-paru baru Covid-19. Menurut hipotesis yang dirumuskan dalam Lancet Respiratory Medicine tersebut, ibuprofen diyakini memiliki efek yang sama.

Menurut para pendukung hipotesis yang masih belum dikonfirmasi ini, tingginya angka kematian akibat virus corona yang terlihat di Italia mungkin dapat dijelaskan dengan proses ini karena Negara Pizza tersebut memiliki tingkat penggunaan ACE inhibitor yang tinggi. Namun, data yang dapat diandalkan untuk hipotesis ini sayangnya juga belum tersedia.

Loading...