Hubungan Dagang AS-China Masih Bergejolak, Rupiah Berakhir Melemah di Pasar Spot

Rupiah - m.harianjogja.comRupiah - m.harianjogja.com

Jakarta akhirnya menutup perdagangan sore ini, Rabu (21/11) dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,10 persen ke level Rp 14.602,5 per dolar AS setelah tadi pagi dibuka melemah 47,5 poin atau 0,33 persen pada posisi Rp 14.635 per USD. Sepanjang pagi ini diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.585 hingga Rp 14.645 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini pada posisi Rp 14.618 per dolar AS, melemah 32 poin atau 0,22 persen dari posisi sebelumnya, Senin (19/11) sebesar Rp 14.586 per dolar AS. Kurs jual ditetapkan di angka Rp 14.691 per dolar AS, sedangkan kurs beli ada di posisi Rp 14.545 per dolar AS.

Di sisi lain, sebagian besar mata uang di mengalami pelemahan, dipimpin oleh baht dan won Korea Selatan yang melemah 0,42 persen serta ringgit Malaysia yang jatuh sebesar 0,27 persen. Sedangkan indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah 0,017 poin atau 0,02 persen ke level 96,819 pukul 11.06 WIB tadi. Sebelumnya, indeks dolar AS dibuka melemah 0,011 poin atau 0,01 persen menjadi 96,825 setelah pada Selasa (20/11) berakhir menguat 0,643 atau 0,67 poin ke 96,836.

Menurut Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi, rupiah terkoreksi akibat hubungan dagang antara Amerika Serikat dengan China yang masih bergejolak. “Walaupun terus memberikan sinyal akan melakukan pertemuan, belum ada kepastian dan keputusan yang positif bagi keduanya maupun secara ,” ujar Dini, seperti dilansir Kontan. AS dan China sebelumnya dijadwalkan hendak melakukan pertemuan untuk mendiskusikan seputar perang dagang dalam KTT G-20 pada akhir November 2018 ini.

Isu defisit Italia dari zona euro juga masih belum menemukan titik terang dan ikut berpengaruh terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. Kekhawatiran adanya perlambatan global juga mengakibatkan dunia turun. “Ada outlook bahwa demand mengalami penurunan. Pasar juga masih menghindari aset-aset berisiko di situasi seperti ini,” sambung Dini. Meski demikian, kenaikan suku bunga BI beberapa waktu lalu dinilai mampu menahan rupiah supaya tidak terkoreksi terlalu dalam.

Loading...