Tertekan Hubungan AS-China, Rupiah Ditutup Melemah

Rupiah - www.harnas.coRupiah - www.harnas.co

JAKARTA – Rupiah harus terjungkal ke zona merah pada Selasa (8/9) sore, ketika relatif bergerak stabil dan lebih tinggi ketika hubungan antara AS dan China dikabarkan semakin memanas. Menurut catatan Index pada pukul 14.59 WIB, rupiah ditutup melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.765 per AS.

Sementara itu, yang diterbitkan Bank pukul 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.798 per dolar AS, terdepresiasi 44 poin atau 0,27% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.754 per dolar AS. Sebelumnya, kurs JISDOR sempat menguat 38 poin atau 0,26% pada hari Senin (7/9) kemarin.

“Pelemahan rupiah dikarenakan dolar AS yang makin perkasa,” tutur Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra. “Ini dipicu oleh kekhawatiran memanasnya hubungan AS dan China karena rencana pemerintah AS yang akan memblokir perdagangan dengan perusahaan semikonduktor terbesar China, selain pemulihan di Negeri Paman Sam.”

Dari , indeks dolar AS memang bertahan stabil pada hari Selasa karena investor mempertimbangkan apakah peralihan akomodatif dari Bank Sentral Eropa (ECB) akhir pekan ini dapat memukul euro, sedangkan pound sterling menahan penurunan karena ketidakpastian Brexit. Paman Sam terpantau menguat 0,432 poin atau 0,47% ke level 93,151 pada pukul 12.24 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, fokus utama investor pada minggu ini adalah keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis (10/9) waktu setempat. Sebagian besar analis tidak mengharapkan perubahan dalam sikap kebijakan bank sentral, tetapi melihat pesan tentang perkiraan inflasi dan apakah dampaknya bisa melemahkan kekuatan euro.

“ECB dapat meningkatkan kekhawatiran lebih lanjut atas apresiasi lebih lanjut di euro dan membuat beberapa revisi ke bawah proyeksi inflasi,” papar analis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Kim Mundy. “Dalam pandangan kami, dolar AS dapat terangkat lebih jauh selama sisa minggu ini karena kemungkinan ECB mengambil giliran dovish yang lebih tajam.”

Di tempat lain, greenback diperdagangkan kuat terhadap yen Jepang di tengah pembicaraan tentang pemilihan cepat. Para analis mengatakan bahwa banyak pelaku pasar mata uang tidak lagi menganggap perlombaan kepemimpinan sebagai katalis, karena pemimpin berikutnya kemungkinan akan tetap mengikuti jalur kebijakan Shinzo Abe.

Loading...