Hidangan Mewah Sekaligus Kontroversial, Berapa Harga Hati Angsa?

Ilustrasi : Sepasang angsa mencari makanIlustrasi : Sepasang angsa mencari makan

JAKARTA – Baru-baru ini, foie gras kembali menjadi perbincangan hangat media lokal. Pasalnya, yang terbuat dari hati angsa tersebut baru saja disantap oleh salah satu pesohor dalam negeri, Syahrini, bersama pasangannya, Reino Barack, di Swiss. ini sendiri menjadi salah satu termahal di dunia, dengan mencapai jutaan untuk berat tidak sampai 500 gram.

Konon berasal dari Prancis, foie gras ternyata sudah dapat Anda nikmati di beberapa mewah dalam negeri. Di kawasan Jakarta, salah satu yang menyajikan hidangan ini adalah The Steak House di Four Seasons Hotel. Sajian foie gras cukup cantik, dengan tekstur yang sangat lembut dan gurih, serasi dengan aroma khas jamur truffle.

Selain di restoran mewah, Anda ternyata juga dapat menemukan hati angsa atau foie gras di beberapa situs jual beli online. Untuk produk yang diklaim langsung dari Prancis, dengan berat berkisar 310 gram, ditawarkan dengan harga Rp1,8 juta hingga Rp2,4 jutaan. Angka ini melonjak tajam dibandingkan dua tahun lalu, yang masih berkisar Rp2,5 jutaan untuk berat 1 kg.

Sayangnya, di balik harganya yang mahal serta kelezatan yang tersaji, ada ironi tersendiri mengenai foie gras. Menurut beberapa sumber, proses foie gras memunculkan kontroversi, karena angsa-angsa tersebut harus mengalami penggemukan paksa terlebih dahulu. Tujuannya adalah agar hati angsa berselimutkan lemak dan membuat rasanya menjadi lebih gurih.

Di Prancis, biasanya dalam pembuatan foie gras, seekor angsa akan diberi makanan dua sampai tiga kali sehari. Caranya, dengan memasukkan makanan melalui selang panjang ke dalam mulut dan leher unggas tersebut. Karena proses pembuatannya dianggap menyiksa hewan, maka konsumsi dan peredaran foie gras menuai cukup banyak kontroversi.

Dilansir CNN, California, sudah melarang peredaran foie gras sejak tahun 2004 lalu karena alasan tersebut. Sementara, di Prancis, L214 grup hak-hak hewan telah berkampanye melawan pemberian makan secara paksa terhadap angsa-angsa. Lembaga ini mencatat persentase dari mereka yang melawan proses ini lebih tinggi tiga kali lipat pada tahun 2014 kemarin.

Loading...