Hasil Panen Berlimpah, Harga Beras Anjlok ke Tingkat Terendah dalam 10 Tahun

Bangkok kemarau yang dibawa oleh siklus El Nino ke Selatan dan Tenggara mengakibatkan hujan deras dan meningkatkan hasil dari pokok utama daerah dan mengakibatkan jatuh ke tingkat terendah dalam 10 tahun.

dari Thailand sebagai pengekspor terbesar kedua di dunia pada 2015 setelah India merupakan paling berharga dan lebih mahal. Harga melati berkualitas tinggi atau hom mali yang menjadi penyumbang seperempat dari total ekspor Thailand dari $ 1.200 per metrik ton di 2012-13 dengan rata-rata $ 1.000 per metrik ton pada 2015 dan turun ke $ 725 pada akhir Oktober 2016.

Harga patokan beras putih 5% Thailand jatuh ke $ 345 – $ 348 per metrik ton pada 9 November dari $ 345 – $ 350 per metrik ton minggu sebelumnya. Kesengsaraan beras Thailand juga menular pada eksportir lain yang menjual beras kualitas rendah seperti Vietnam.

Harga beras aromatik Vietnam saat ini dilaporkan sekitar $ 570 – $ 650 per metrik ton. Ekspor sepanjang tahun ini (Januari-Oktober) telah jatuh 21,2% dari periode yang sama tahun 2015. Beras tersebut sebagian besar dijual ke China, Ghana, dan Filipina.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan jika produksi padi mentah dunia sekarang diperkirakan mencapai rekor 749,7 juta metrik ton atau sekitar 497,9 juta metrik ton beras giling. “Ini akan menandai ekspansi produksi global pertama beras yang terjadi sejak 2013 dan melampaui kekeringan tahun 2015 yang menekan panen hingga 10,1 juta metrik ton,” demikian bunyi laporannya.

Meski cuaca menjadi faktor penting, prospek jangka panjang untuk harga pasar masih rendah karena kombinasi pemerintah Asia cukup lambat pada reformasi pertanian dan tutupnya pasar ekspor utama. FAO PBB memperkirakan beras internasional akan meningkat 0,7% saja pada 2017.

Sementara itu Presiden RI Joko Widodo telah menggaungkan kebijakannya tentang swasembada pangan dan beras sejak ia menjabat tahun 2014 lalu. “Kami memperbaiki semua peraturan yang dipandang menghambat laju menuju pencapaian swasembada produksi pangan,” ujar Menteri Pertanian , Amran Sulaiman.

Loading...