Hasil KTT AS-ASEAN Masih Ambigu, Jauh dari Kesan Blok yang Bersatu

Konferensi Tingkat Tingi (KTT) antara dengan pemimpin negara-negara ASEAN akhirnya menyoroti konflik kepentingan mereka, terutama mengenai masalah Laut Cina Selatan. Namun sayangnya, hasil pertemuan yang terangkum dalam Deklarasi Sunnylands terkesan ambigu, mirip dengan pernyataan yang dikeluarkan pada pertemuan ASEAN di , tahun lalu.

Pertemuan yang diadakan pada 15-16 Februari di Sunnylands, California, AS, tersebut jauh dari kesan sebuah blok yang bersatu. Deklarasi Sunnylands yang memuat 17 butir kesepakatan memang menyebutkan tentang kebebasan navigasi dan non-militerisasi serta lebih menahan diri, tetapi tidak menyebutkan sengketa Laut Cina Selatan dengan detail. Hal ini mengindikasikan bahwa baik AS maupun ASEAN tidak melakukan upaya apa pun untuk mengekang kebijakan Cina di perairan tersebut.

Beberapa negara ASEAN juga tidak yakin tentang manfaat bergabung dengan Trans-Pacific Partnership (TPP) yang digagas AS. AS dianggap hanya melebih-lebihkan daya tarik pasar. Meski negeri Paman Sam sudah menjadi mitra dagang bagi Timur dan Pasifik sejak tahun 2000 silam, namun mereka hanya memberikan kontribusi 8 persen di tahun 2013. Cina malah mengambil tempat teratas dengan kontribusi 14 persen.

AS sendiri melalui Asisten Menteri Luar Negeri untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik, Daniel Russel, sebelumnya mengatakan bahwa kemitraan ini akan menguntungkan dan membantu menciptakan integritas di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Di samping itu, kekhawatiran terbesar anggota ASEAN adalah menyusutnya permintaan Cina sebagai konsumen produk , imbas dari perlambatan perekonomian di negeri Tirai Bambu tersebut. Investasi internal dalam proyek, seperti membangun infrastruktur regional, dibutuhkan untuk melahirkan permintaan baru.

Washington memang berinisiatif untuk mendukung inovasi dan kewirausahaan di kawasan ASEAN, namun hal itu dianggap tidak cukup untuk mengatasi masalah. Meski AS, Barack , telah berulangkali mengatakan bahwa ASEAN merupakan pusat kawasan Asia-Pasifik dan ia menghargai komunitas ASEAN, namun diplomasi yang terlalu “miring” ke arah Washington bisa mengikis persatuan ASEAN.

Loading...