Ancam Bumi, Universitas Harvard Didesak Batalkan Proyek Tutupi Matahari

MatahariMatahari

JAKARTA – Masyarakat adat di seluruh dunia, , dan pemerhati lingkungan mendesak Universitas Harvard untuk menghentikan proyek yang mencoba meredupkan sinar matahari karena dapat membawa risiko yang besar bagi Bumi. Sebelumnya, institusi tersebut mempelajari kelayakan melepaskan partikel kecil yang tinggi di atmosfer, dengan pesawat atau balon, untuk memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa.

Seperti dilansir dari TRT World, aktivis Swedia, Greta Thunberg, ilmuwan dan pemerhati lingkungan yang menentang ‘rekayasa geo surya’ memuji upaya untuk menghentikan , yang diumumkan pada konferensi online oleh Dewan Saami. “Kami tidak menyetujui pengesahan pengembangan teknologi geo-engineering surya, yang dilakukan di atas tanah, wilayah, dan langit kami, atau di ekosistem mana pun di mana saja,” tulis surat yang dirancang oleh Dewan Saami.

Pada bulan Maret lalu, tekanan dari orang-orang Saami dan kelompok lingkungan membuat badan antariksa Swedia membatalkan tes balon yang dipimpin Universitas Harvard, yang dapat membuka jalan ke eksperimen selanjutnya untuk melepaskan sejumlah kecil bahan reflektif setinggi 20 km di atmosfer. Asa Larsson Blind, wakil presiden Dewan Saami, mengatakan bahwa sekitar 30 organisasi adat dari seluruh dunia telah menandatangani draf surat tersebut.

Gagasan untuk meneliti geo-engineering mulai berkembang di beberapa , di bawah tekanan dari kenaikan suhu dan gelombang panas yang meningkat, kekeringan, dan naiknya air laut. Emisi karbon pemanasan planet kembali meningkat pada tahun ini setelah sempat turun pada 2020 ketika pandemi virus corona menghantam aktivitas ekonomi.

Pada bulan Maret, akademi Sains, Teknik, dan Kedokteran Nasional AS menyerukan program penelitian lima tahun senilai 100 juta hingga 200 juta AS untuk menyelidiki geo-engineering surya. Frank Keutsch, profesor teknik dan ilmu atmosfer di Harvard yang memimpin inisiatif geo-engineering surya SCoPEx, menyatakan kekecewaannya pada langkah Dewan Saami, mencatat bahwa penelitian tersebut mendapat dukungan di antara para ilmuwan iklim dan orang-orang dari negara-negara yang lebih rentan terhadap iklim.

Proyek SCoPEx dari Universitas Harvard untuk tutupi Matahari (sumber: grist.org)

Proyek SCoPEx dari Universitas Harvard untuk tutupi Matahari (sumber: grist.org)

Sementara itu, Chris Field, ketua komite yang menulis Akademi Nasional AS, mengatakan bahwa program penelitian adalah cara paling ampuh untuk mengetahui apakah itu ide yang bagus atau ide yang buruk untuk dilanjutkan lebih jauh. Menurut dia, jika geo-engineering surya pada dasarnya tidak dapat dijalankan, dari perspektif teknis atau sosial, mengetahui itu akan sangat berharga.

Penumpukan karbon dioksida di atmosfer di bawah pelindung matahari buatan, misalnya, tidak akan membatasi pengasaman lautan. Field mengatakan, pengeluaran yang diusulkan untuk penelitian geo-engineering adalah sebagian kecil dari anggaran Program Penelitian Perubahan Global AS, senilai 2,5 miliar dolar AS pada 2019. Namun, Thunberg menuturkan bahwa geo-engineering surya berisiko membahayakan orang-orang yang paling rentan di negara berkembang, seperti dengan mengganggu hujan monsun. “ melakukan segala yang dia bisa. Mereka berteriak pada kita untuk mundur, berhenti, dan kita melakukan yang sebaliknya,” katanya.

Para ilmuwan yang menentang geo-engineering surya berpendapat itu bisa memberi perusahaan alasan untuk terus memproduksi batu bara, minyak, dan gas alam, dengan prospek bahwa perbaikan teknologi sudah dekat di beberapa titik. “Daripada mengobati akar masalahnya, obat ini mengobati gejalanya. Ini seperti meminum obat pereda nyeri,” tutur Raymond Pierrehumbert, profesor fisika di Universitas Oxford.

Sementara itu, Michael Mann, profesor ilmu atmosfer dan direktur Pusat Sains Sistem Bumi di Penn State University, memaparkan, dunia perlu menyebabkan letusan Pinatubo setiap beberapa tahun untuk menyelimuti Bumi dari matahari. Itu kemungkinan bisa mengeringkan benua, yang malah menyebabkan beberapa daerah menjadi lebih cepat panas dengan mengorbankan pendinginan daerah lain. “Ini adalah langkah bodoh,” tandasnya.

Loading...