Hari Pertama Puasa, Rupiah Dibuka Melemah

Rupiah - jateng.tribunnews.comRupiah - jateng.tribunnews.com

JAKARTA – Rupiah masih tetap bertengger di zona merah pada Selasa (13/4) pagi, bersamaan dengan hari pertama bulan puasa. Menurut Index pukul 09.04 WIB, Garuda dibuka melemah 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.612,5 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup terdepresiasi 30 poin atau 0,21% di posisi Rp14.595 per AS pada Senin (12/4) sore.

“Efek dan saham regional di beberapa negara seperti Jepang, China, dan Hong Kong terkoreksi. Ini sepertinya ada capital outflow. Beritanya bukan berita domestik, tetapi karena ,” terang ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, dikutip dari Kontan. “Inflasi AS yang bisa naik 3% juga dikhawatirkan , sehingga akan membuat yield Treasury AS naik, mendorong capital outflow dari saham .”

Meskipun demikian, Ahmad menambahkan, koreksi rupiah sudah sangat dalam. Biasanya, koreksi seperti ini akan membuat mata uang Garuda mudah untuk rebound. Beberapa data yang dapat membuat rupiah bangkit adalah penjualan ritel di AS dan domestik bruto (PDB) China. “Jika ritel AS bagus dan PDB China bisa 18% year-on-year, maka yuan bisa naik, dan akhirnya mendorong rupiah,” sambung Ahmad.

Hampir senada, FX Senior Dealer Bank Sinarmas, Deddy, menuturkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi kemarin dipicu tekanan outflow dari pasar saham yang terkoreksi lebih dari 2%. Di samping itu, rilis data domestik juga kurang menggembirakan, dengan Dara Retail Sales Indonesia bulan Februari 2021 berada di level -18,1% atau meleset dari perkiraan awal -11%.

“Tren pelemahan rupiah kemungkinan akan berlanjut pada perdagangan hari ini. Hal tersebut seiring dengan tekanan yang masih akan dihadapi mata uang Garuda,” sambung Deddy, seperti dilansir dari Bisnis. “Namun, pelemahan rupiah masih terbatas di kisaran Rp14.600 hingga Rp14.700 per dolar AS seiring rilis data China pada pagi hari.”

Selain data ekonomi China, investor juga menantikan data konsumen AS untuk Maret 2021 yang akan dirilis pada Selasa waktu setempat. Investor bertaruh bahwa tekanan akan meningkat karena melonjaknya stimulus fiskal dan moneter dan saat bisnis dibuka kembali dari penutupan terkait COVID-19. “Dengan data AS diperkirakan menguat, kami yakin kenaikan dolar AS dapat berlanjut,” ujar analis di Brown Brothers Harriman.

Loading...